Sabtu, 11 Januari 2014

(Have to) do what I love and love what I do

                Katakanlah aku galau malam tadi. Berat. Lutut ini saja masih terasa lunglai. Mataku tetap sayu dan sembab seperti biasanya. Pikiran lebih makin bercabang dan kacau.. Padahal hari ini beberapa lembar rupiah itu baru saja mengisi dompet yang kandas. Tapi aku merasa tak pantas. Ada sebabnya
                Jadi begini, sudah hampir setahun aku menjalani pra-profesi yang ujung-ujungnya, mau gak mau jadi masa depanku nanti. Sebagai seorang pemula, tentu ada banyak suka-duka yang dialami. Ya, beberapa bulan belakangan aku belajar mandiri dan belajar mencari sesuap napas kehidupan. Aku mengajar. Awalnya, memang keinginanku yang kuat untuk mulai berkarier karena bosan akan kegiatan sehari-hari yang, yaaah… bilang saja kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang. Karena sehabis kuliah aku gak tau mau ngapain lagi, mau kemana dan bagaimana. Daripada kelayapan gak jelas dan berujung menghabiskan lembaran berharga itu, aku putuskan untuk langsung pulang ke rumah sehabis mata kuliah untuk jemurin pakaian yang terancam bau apek kalau gak dijemur.. Ya, aku cupu, kuper, dan lain-lain. Jadi, dimulai dari mengubek-ubek teman yang sudah duluan terjun ke bidang edukasi ini. Iri, jelas. Mereka saja sudah mulai, lah aku kapan? Mulai lah pikiranku berangan, ‘Kapan aku punya anak didik yang bisa jadi sebagai batu loncatan.’ Karena semuanya butuh praktek, gak cuma teori yang dijelaskan panjang lebar sama dosen tentang peserta didik, karakteristiknya, proses-teknik-metode-strategi mengajar yang baik. Aku harus bisa mempraktekkannya. Aku harus mengajar. Karena aku tau bahwa manusia adalah apa yang dipikirkannya, maka terjadilah. Aku mengajar, -sampai saat ini-.
                Murid pertamaku seorang siswa SMP tingkat akhir waktu itu. Sejauh ini, gak ada masalah yang berat banget buat ngadepin dia, kecuali kelabilannya di masa remaja. Murid kedua, seorang anak pasangan dokter yang bercita-cita ingin menjadi dokter pula. Saking terobsesinya dia, tulisannya sampai saat ini gak pernah bisa aku mengerti. Saat ngajar dia, aku sempat gelagapan. Aku memang berasal dari jurusan eksakta, tapi aku lebih suka matematika daripada pelajaran eksakta berumus dan tentang makhluk hidup lainnya. Sedangkan yang harus aku ajarkan adalah seorang anak yang akan menghadapi UN di tingkat dasar dengan kemampuan intelektual yang cukup lumayan tinggi karena dia hapal luar kepala hampir semua catatannya. Aku yang udah berpaling dari eksakta dan lebih mendalami ilmu bahasa jelas kewalahan. Walaupun eksakta dasar, tapi ada juga pelajaran yang gak aku kuasai karena jujur saja dari dulu aku gak pernah serius masalah belajar apalagi menghapal. Aku muak. Baiklah, singkatnya, aku terima saja dibilang bego oleh si anak ini. meskipun dia gak secara langsung bilang ke aku. Oke, kadang dia keceplosan nyatain begituan. Ah, sudahlah. Aku memang oon.
                Murid ketiga, seorang cucu dari Opung di suatu tempat nun tak cukup jauh di sana, anak badung yang buat aku nyerah gak sampai waktu dua bulan tapi tetap aku lanjutkan hingga beberapa bulan ke depannya karena (selain paksaan) juga dorongan dari Abang pembimbing. Anak ini hobi bernegosiasi. Mulai dari jam pelajaran yang seharusnya 2 jam per/pertemuan menjadi 1,5 jam sampai materi pelajaran apa yang harus dibahas pun dikortingnya. Sedikit tau tentang latar belakangnya, aku mencoba untuk melakukan beberapa strategi, misalnya belajar sambil diselingi games atau cerita tentang hari di sekolahnya. Singkatnya, aku berusaha menjadi orang yang selalu ada buat dia di saat kesepian. Gaktau kenapa. Aneh, ya? Hmm. Gak aneh kok, wajar.
                Murid keempat, anak cewek pertama yang jadi muridku. Awalnya aku ngerasa bisa mengatasi si anak cewek yang notabene adalah keponakan salah seorang kawan lama. Ditambah lagi dia adalah seorang cewek, jadi aku berasumsi bahwa sesama cewek, kami bisa bekerja sama dalam hal apapun yang harus kami lakukan. Terlepas dari orangtuanya yang punya urusan dan seakan membuatku memiliki tanggung jawab besar bagi anak mereka, ‘You’re mine, girl.’ Tapi nggak. Aku salah. You’re mine,girl-itu gak terjadi sama sekali. Awalnya asik aja sih, kita bisa kompromi. Dia juga adem ayem. Lama-lama keadaan berubah. Dia mulai ngelakuin hal-hal yang sempat aku bayangin yang gak seharusnya terjadi. Tapi ini terjadi. OH, GOD! Lagi-lagi, aku mencoba sabar, mengintropeksi cara belajar dan diri sendiri. Beberapa bulan terkahir aku mulai menyerah, namun masih ada saja yang menahan. Aku diberi kesempatan. Tapi sepertinya gak aku gunakan baik-baik.
                Dari keempat anak di atas, kalau dipresentasekan, nilai keberhasilanku sebagai pendidik sangat rendah. Mungkin gak sampai 23%. Honestly. Dilihat dari nilai raport yang gak naik, syukur kalau stabil laah ini malah turun. Sedih. Kecewa. Hancur.

AKU GAGAL.
                Sadar apa yang aku lakukan di atas? Satu hal yang seharusnya aku lakukan dari awal tapi gak aku lakukan sampai sekarang. Aku gak tegas. Gak salah sepenuhnya kalau dalam mengajar aku gak tegas dan ngasih sanksi. Dalam mempelajari pembelajaran, ada satu hal yang dinamakan PAKEM; Proses Pembelajaran yang Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (kalo gak salah itu kepanjangannya hahahah lupaaa cyiiin). Hal yang paling aku dominankan adalah poin terakhir; menyenangkan. Karena sang pembimbingpun bilang kalau menjadikan suatu kelas yang menyenangkan termasuk hal yang cukup sulit dalam pembelajaran. Jadi, aku bertekad untuk selalu membuat kelas yang aku ajar jadi menyenangkan. Dalam prosesnya, aku gak terlalu membebani anak-anak ini untuk harus mengerti suatu materi dalam satu hari. Kapan mereka bisanya aja. Aku gak mau memaksakan kemampuan karena takut ntar otaknya berasap. Oke, aku salah. Aku gak punya target. Dan waktu mengajar, biasanya kami santai sih, aku biasa ngeluarin lelucon-lelucon yang buat suasana gak garing, karena sesungguhnya aku benar-benar membenci ketegangan dan keseriusan yang teramat kaku. Oke, di sini aku salah lagi. Terlalu banyak lelucon dari awal jadi si anak sama sekali gak takut samaku. Bukan mereka gak menghargai, tapi mereka lebih melihat sisi yang lain dibanding sisi kalau saja aku bisa marah dan mengeluarkan musang ekor sembilan ini suatu saat.
                Dari awal berkarier (ceileeeh) aku punya satu misi untuk gak marah-marah sama anak didik, aku gak mau buat anak-anak takut samaku gara-gara aku galak. Sejujurnya, mari kita berteman, itu cukup. Aku mau mereka menerima materi yang aku kasih dengan santai tapi serius, gak terbebani harus bisa yang penting mereka paham. Buat apa bisa kalo gak paham? Kalau yang paham pasti bisa kan?! Mungkin karena saking santainya metode yang aku kasih (ngikut dari diri sendiri yang terlalu santai menanggapi masalah pfftt) mereka jadi kurang serius. Aku juga gak mau marah karena gak mau cepat tua dan keriput padahal itu sangat tidak mungkin di semua keadaan. Jadi, sebisa mungkin aku menahan emosi karena selain gak mau buat mereka takut  aku juga gak mau cepat keriput. Oke, aku egois.
                Resolusi di tahun baru Masehi ini salah satunya adalah: tegas, bisa marahin anak orang. Tapi apa daya, aku tetap gak bisa. Udah dari dulu pun aku bertekad dari rumah; kalau aja mereka bandel, ngelawan, aku siapin kuda-kuda ngeluarin musang ekor satu. Tapi nihil. Aku luluh. Setiap kali ngeliat mereka ngambek, merengut bahkan menciarkan tangisan karena kesal oleh gertakanku, aku luluh, gak tega ngeliat mereka lebih badmood dari itu. Maka dengan sebisa perjuangan ku ubah ekor musang itu jadi pita Hello Kitty. Ah, lembek! Aku pun heran. Kenapa gini? Kenapa aku gak bisa marah sama mereka? Padahal tiap saat aku marah-marahan sama adekku di rumah. Jangan bilang aku psycho. Pft.

                Semua orang ingin diingat. Bagaimanapun dan oleh siapapun. Aku pun begitu. Aku cuma ingin suatu saat ketika orang lain (mereka) mengingatku, yang diingat adalah; guru yang pernah menjadi teman mereka. Bukan; guru kejam yang cerewet dan suka ngebentak nun cungkring pula. Sukur-sukur gak disumpahin. But remember¸ kamu pernah sekolah kan, saat reuni dan bernostalgia dengan teman-teman sekolahmu nanti, guru mana yang lebih kamu ingat dan lebih banyak punya cerita? Yang biasanya kalem dan adem ayem atau guru yang terkenal killer dengan sejuta ocehan dan hukuman? It’s your choice.  Mengajar bukanlah hal yang mudah, kawan namun tetap saja berbagi ilmu itu indah.

Oh ya. Aku pun sadar aku tak harusnya terlalu cuek kayak gini dan mulai, well, lebih perhatian pada apapun dan harus lebih banyak belajar lagi. Jadi, baiklah, aku akan mulai mengerjakan tugas RPP dari beberapa bulan yang lalu dan harus dikumpul Senin nanti. Bye.
Oiya. one more thing. I’m just wondering if you have some other experiences, maybe we can talk and share each other. Nice. Thanks. :)

0 komentar:

Posting Komentar

Pages

Credits

Diberdayakan oleh Blogger.