Di Ujung Jalan Itu
‘Tak…tukk…taakk..tiikkk…tuukkk…daaasss!’ Derap langkah ku semakin cepat, pukul 06.45! Itu yang ditunjukkan jam tangan mungil di pergelangan tangan kiri ku. Walaupun pagi itu jalanan becek karena dibasahi hujan semalaman penuh aku tetap berjalan dan berjalan semakin cepat. Meskipun tak jarang ku lewati saja jalan becek itu yang mengakibatkan kaki dan sepatu ku cukup basah.
Langkah ku terhenti, manakala aku sudah berada di ujung jalan rumah ku. Aku berdiri bersama sekitar 5 anak lainnya, meskipun kami tak saling kenal karena beda sekolah dan jarang bertemu kecuali di saat tertentu. Seperti pagi ini, kami biasanya bertemu di ujung jalan ini, dengan satu tujuan: menunggu angkot menuju ke sekolah.
Ku lirik lagi jam mungil di tangan kiri ku, 06.55! Hah?! Mata ku mendelik dan mulut ku sedikit ternganga, kaki ku pun kini ikut bergerak gelisah. Wajar saja kalau aku sekarang mulai panik, kurang dari setengah jam lagi dijamin aku akan telat! Bayangkan, 10 menit berlalu dan aku masih di sini, setia menunggu angkot yang akan datang dan mengangkut ku. Oke, bukan karena tidak ada angkot yang lewat dengan tujuan ke sekolah, tapi aku yang terkesan memilih angkot pagi ini, pagi yang masih ditemani butiran-butiran kecil air hujan. Pagi yang seperti ini yang kurang aku suka. Memang tak terlalu banyak polusi dan udaranya pun sejuk, ku akui itu. Tapi pagi seperti ini adalah pagi kemacetan! Jalanan pasti macet karena kendaraan berlalu lambat dan terkesan hati-hati, seperti siput. Dan angkutan umum pun akan penuh sesak oleh orang-orang yang kebanyakan anak sekolah. Penuh, sesak, sempit, berhimpitan, tak ada tempat untuk duduk. Inilah alasannya aku memilih-milih angkot pagi ini. Aku tak akan mau menaiki angkot yang seperti itu. Tapi kalau waktu memaksa, apa boleh buat laaah.
Jari telunjuk ku mengacung ke depan, tanda ku berhentikan angkot bernomor 17 berwarna kuning. Aku segera naik. “Huuuufffttt…” ku hela nafas ku melihat deretan manusia duduk berhimpitan di kanan-kiri sisi angkot. Well, waktu yang memaksa aku menumpangi angkot ini. Kalau bukan karena dikejar waktu, aku juga tak akan mau. Ingat, waktu yang memaksa!
***
Udara sejuk dan awan mendung masih bertahan di hari ini. Aku jadi malas untuk sekedar menggeser kepala ku yang sedari tadi menempel di atas meja. Ditambah lagi rasa kesal ku yang masih saja menumpuk mengingat hukuman yang diberikan BP sebagai ganjaran terlambat pagi tadi.
“Kantin yuuukkk,” tangan Ita menyentuh pundak ku sebagai tanda ajakannya. Ita adalah salah satu teman dekatku. Ia memang bertubuh besar, maklumi saja kalau dia betah ke kantin.
“Enggak aah…” ucapku seraya menggelengkan kepala, aku rasa itu cukup untuk menolak ajakannya.
“Kenapaaaaaa? Alasannya masih sama kayak yang kemarin ya?” tebaknya sok tau.
“He-eh,” kini aku mengangguk, “Lagi…heeemmaaaaattt,” ucap kami berdua kompak mengikuti gaya seseorang pada sebuah iklan komersil di tv, sebut saja ‘iklan yang cukup eksis’.
“Jadi gak mau ikut nih?” Ita seperti belum mendapatkan jawaban pasti dari ku.
“Enggak…” kini senyumanku ikut menemani gelengan untuk Ita.
“Kapan bisa gemukan kalo diajak ke kantin aja gak pernah mau…” ejek Ita. Mata ku melirik ke arahnya. Ia tau maksud berengan itu. “Hehehe, yaudah deh aku ajak si Kibo aja,” Ita bergegas pergi. Apa coba hubungannya gak mau diajak ke kantin sama masalah ber*t badan? (sedikit disensor karena aku paling sensitive kalau bicarain masalah ini). Yaa, aku tau ini semua takdir Yang Mahakuasa. Tapi aku juga tau kalau takdir yang ini bisa diubah. Hanya saja tergantung pada yang empunya badan(aku), mau atau tidak merubah si ‘takdir’ ini.
***
Aku berdiri terdiam seperti orang bodoh di depan kelas. Sambil membawa tas punngung yang cukup atau bahkan bisa dikatakan sangat berat isinya, aku menatapi dan memperhatikan anak-anak manusia bergerumul menuruni tangga yang ada di depan ku. Aku tetap saja melihat hal itu meskipun aku tau itu membuat kepala ku jadi pusing. Sampai lambaian tangan seseorang menyadarkan aku yang sedikit melamun. Aku sadar dan melihat ke arah orang itu, aahhh Kibo ternyata. Kenapa bukan Pangeran tampan dari negeri seberang yang melambaikan tangan itu? Jujur, aku sering menghayalkan tentang pangeran ini, yang bahasa kerennya ‘Prince Charming’, kata temen-temen ku sih gitu.
Muka ku masam menatap Kibo. “Apa?” tanyaku ketus.
“Jangan ngelamun, ntar kesambet loh,” jawabnya.
“Iya, udah tau,”
“Trus? Tadi kenapa ngelamun? Hayooooooo….” goda Kibo.
“Hayoo apa’an?”
“Idih dibilangin gitu aja langsung sewot,”
“Masalahnya apa, Bo?”
“Enggak ada masalah apa-apa. Lupain aja, ntar kamunya makin sewot lagi. Tau deeeh yang lagi PMS itu, bawaannya kan jutek mulu ya,”
“Puhleeeeaaaasssseeee deeehhh Kiboooooo!!!” sekarang aku beneran sewot sama Kibo.
“Enggak pulang?” tanyanya lagi.
“Pulang lah! Emang mau ngapain di sini terus? Nginep? Sama siapa? Hantu sekolah? Idiiih maleeeesssss, mendingan tidur di rumah aja,” jawabku judes.
“Yaelah ini anak ditanyain bagus-bagus jawabnya malah bikin enek hati ya! Kalo mau pulang, kenapa masih membatu di sini, Mbakyu?”
“Masih susah tuh mau turun tangga, sumpek. Ntar lagi aja,” jawab ku singkat seraya memanyunkan bibir menunjuk ke arah tangga. Kibo melihat arah manyunan bibir ku, “Ooh…” katanya pelan, mengerti.
Aku masih berdiri bak penjaga pintu masuk di depan kelas, sambil menunggu anak-anak tangga yang akan membawa kami ke bawah sepi oleh desakan massa. Terkadang ku perhatikan juga Kibo yang sibuk mondar-mandir. Maklum, sebagai anggota organisasi sekolah, ia sibuk mengurusi ini-itu organisasinya. Ita sendiri asik ngobrol sama seorang cowok. Aku berani taruhan, itu pasti gebetan barunya. Kalau bisa dibilang, dia memang salah satu primadona di sekolah.
Tiba-tiba mataku menangkap bayangan sesosok anak manusia lewat di depan ku. Aku kaget. Aku memperhatikan anak manusia yang diidentifikasikan sebagai seorang cowok tulen itu sampai ia menuruni tangga, yang ku tangkap darinya adalah, tingginya sekitar 170cm, badannya tak terlalu kurus tapi tak gemuk pula, rambutnya pendek lurus disasak, dan satu lagi…telinganya yang caplang alias lancip! Persis seperti telinga Legolas dari kaum Elf di film The Lord of The Ring. Well, mungkin memang tak selancip telinganya Legolas, tapi kira-kira seperti itu lah.
Ku tutup lagi tudung saji di meja makan setelah ku lihat apa isinya. Cukup menggoyang lidah. Ada semur ayam, rebusan daun ubi, dan sambal terasi. Tapi memang nafsu makan yang tak pernah mampir, aku tak berniat menyentuh apalagi memakannya.
***
Ku rebahkan tubuhku di kasur, menatapi langit-langit kamar yang ku hiasi dengan potongan bintang-bintang kertas sewaktu aku SMP dulu. Bintang-bintang itu memang bisa membuat pikiranku tenang. Entah mengapa, tiba-tiba saja aku teringat kepada anak cowok yang di sekolah tadi. Aku berpikir, dimana aku pernah menjumpainya. Seperti tak asing lagi. Tapi siapa dia? Pernahkah kami bertemu sebelumnya?
***
Pagi ini aku berjalan santai menuju ujung jalan rumah ku, menunggu angkot. Tidak terburu-buru karena aku berangkat cukup pagi, tidak seperti pagi kemarin. Seminggu ke depan memang aku diwajibkan naik angkot karena Mbak Mia yang biasanya mengantarku dengan sukarela lagi di luar kota. Dan Ibu belum mengijinkan aku membawa motor sekedar pulang-pergi dari rumah ke sekolah. Alasannya, belum cukup umur, belum ada SIM, ntar ditilang polisi dan bla bla blaaa berbagai alasan yang bisa aku mengerti.
Aku menunggu angkot di ujung jalan ini. Masih sepi. Ku lirik jam tangan digitalku, pukul 06.23 pas. Pantas saja. Bulu kuduk ku berdiri merasakan dinginnya udara pagi. Akhir-akhir ini memang hujan sering mengguyur bumi yang makin tua ini. Suasana di ujung jalan seperti mencekam. Bayangkan saja, selain tidak ada orang lain di sini dan bulu kuduk ku yang berdiri, tiba-tiba saja ku rasakan ada sesosok bayangan makhluk lain berdiri di samping ku. Aku menelan ludah, membayangkan hal-hal yang tidak masuk akal tentang keadaan ini. Tidak mungkin ada Dementor yang dikirim dari Azkaban untuk menangkap tawanan yang kabur ke sini. Oke, ini bukan serial Harry Potter manapun, Ine. Please, positive thinking. Aku berusaha menenangkan diriku sendiri. Ku berani kan diri menoleh ke arah bayangan di sebelah kanan ku itu.
“HAH?!” aku terperanjat kaget. Nada suara ku barusan sedikit tinggi dan memekik. Membuat orang di sebelah ku tadi menatap ku. Ku lihat sebuah senyum simpul terbentuk dari bibirnya. Ya Tuhan, manis sekali senyumnya. Ambooooooooyyyyy. Siapa dia? Jelas sekali dia bukan Dementor dari Azkaban. Mungkin saja Prince Charming yang selama ini aku khayalkan? Ya Allah terima kasih Engkau telah mengabulkan permintaan hamba-Mu ini. Lamunan ku semakin ngelantur. Sampai sebuah lambaian menyadarkan ku. Aku sadar. Masih menatapnya. Dia heran. Dia senyum lagi. Lalu dia membuka mulutnya, seperti ingin mengucapkan sepatah dua patah dan berpatah-patah kata kepada ku.
“Hei…” itulah kata yang keluar dari mulutnya. Dia sadar aku masih menatapinya, sepertinya ia tak nyaman dengan itu
“Eh…iya, hai juga…” kata ku malu, lalu menundukkan kepala.
“Aku bukan hantu kok, bukan Dementor dari Azkaban juga,” katanya lagi.
“Hah?!” kataku bak orang bodoh dan tak percaya. Ia seperti bisa membaca pikiran ku. Ia melirik buku yang ada di genggaman tangan kanan ku. Perkamen Rahasia Dementor, Penjaga Azkaban. Omaigat! Aku merasa bodoh! Dengan senyum nyengir ku sembunyikan buku itu di belakang tubuhku. Aku tertunduk malu.
“Temennya Rio?” tanyanya.
“Iya,” jawabku singkat. Well, kali ini aku bisa mengontrol diriku dari rasa gugup.
“Titip ya,” ia menyodorkan sebuah amplop berisi surat.
“Oh, iya,” aku mengangguk. Aku tau isi surat itu. Surat izin tidak masuk sekolah, bukan surat cinta dari orang yang baru ku kenal.
Angkot yang sekian lama ku tunggu datang. Dia pun naik angkot yang sama dengan ku. Hanya saja ia duduk di depan, di samping Pak Supir yang sedang bekerja, mengendarai angkot supaya baik jalannya. Dan aku duduk di bangku belakang bersama penumpang lain.
***
“Ayok pulang,” aku menarik tangan Kibo.
“Eh…” Ia kaget dan mengikut saja. “Tumben mau desek-desekan di tangga?” tanyanya.
“Mau pulang cepet, laper,”jelas ku singkat.
Langkah kami terhenti saat manusia-manusia lain bergerumul menghalangi jalan. Aku menghela nafas, Kibo tertawa melihat ku.
“Apa?” tanyaku ketus.
“Makanya, kalo gak mau desek-desekan, tunggu sampe sepi aja, palingan bentar lagi udah gak rame lagi kok,” katanya. Aku mengangguk. Kami menepi ke pinggir, berdiri di dekat mading.
Sebuah senyuman tertuju pada ku. Spontan aku membalas senyumannya. Lama juga aku sadar siapa pelempar senyum itu. Dia temannya Rio, anak yang ku jumpai di ujung jalan pagi ini, dia juga….anak yang ku perhatikan siang kemarin! Pantas saja ia seperti tak asing, aku pernah berjumpa dengannya sebelum siang itu. Ya, aku pernah beberapa kali bertemu dengannya di ujung jalan itu.
***
Rasanya dari pagi ke pagi sangat cepat berlalu. Dan pagi ini aku kembali berada di ujung jalan, menunggu angkot.
Seseorang berdiri di samping ku. Aku menoleh. Dia. Aku tersenyum padanya. Ia membalas senyum itu.
“Aku jarang liat kamu di sekolah. Anak baru ya?” kata ku membuka pembicaraan. Oke, bisa dibilang SKSD alias Sok Kenal Sok Dekat juga sih.
“Enggak,” jawabnya singkat.
“Trus kok jarang keliatan?”
Dia hanya tersenyum sekedarnya tanpa melihat ku.
“Eeeeng…” belum sempat aku berbicara, ia sudah bicara duluan.
“Angkotnya udah dateng,”
Aku tak sempat bertanya banyak hal, karena ia masih saja setia menemani Pak Supir di bangku depan. “Mungkin lain kali,” gumam ku.
***
Tiga buah lembar ketas berlaminating muncul di hadapanku. Aku menatap Ibu, seolah bertanya ‘Apa ini?’ dan Ibu seakan mengerti maksud tatapan ku.
“Ini KTP, SIM sama STNK motor,” jelasnya sambil menunjuk kertas laminating itu satu per satu. Aku masih heran dan tak percaya. Ku telan kunyahan makanan yang ada di mulut ku, agak seret karena janggal dengan keadaan ini.
“Maksudnya?” tanyaku. Kali ini aku memang benar-benar bodoh dan tidak sedang pura-pura tak tahu.
“Biar lebih mandiri, sekarang ke sekolah boleh bawa motor. Biar lebih hemat juga,”
“Tapi kan belum cukup umur, Ibu sendiri yang bilang. Ntar kalo ditilang sama Pak Polisi gimana? Kan sayang uang tilangnya. Mending buat beli yang lain…” entah kenapa aku bisa protes, padahal dulu aku yang mendesak Ibu agar dibolehkan membawa motor ke sekolah. Tapi sekarang beda.
“Husssh jangan nyerocos dulu. Ya kan Mbak Mia sekarang udah makin sibuk, kasian juga kalau harus nganter kamu kemana-mana. Masalah belum cukup umur, sebulan yang lalu kan kamu udah 17 tahun,” jelas Ibu panjang lebar.
Ya ampun! Aku lupa sama umurku sendiri! Padahal lilin berangka 1 dan 7 itu masih ku simpan dengan eloknya di kamar. Aku tersenyum malu kepada Ibu. Tak dapat disembunyikan juga rasa bahagia ku siang ini.
***
Pagi besok dan seterusnya motor ini setia mengantarku kemanapun. Pagi siang sore malam atau dini hari pun ia siap mengantar, tapi dilarang Ibu jika harus pergi malam dan dini hari. Kalau itu tidak usah dopertanyakan lagi alasannya.
Memang benar kata Ibu, aku lebih mandiri dan bisa lebih hemat karena motor ini. Mbak Mia tak perlu repot lagi mengantar aku kesana ke mari sekedar mencari alamat palsu. Uang saku ku pun bisa ku tabung lebih banyak. Hemaaaatttttttt.
***
“Nebeng boleh ya? Bawaan berat meeen,” pinta Kibo sambil menunjukkan sebuah tas plastik berukuran besar berisi amplop dan proposal organisasinya.
“Iya, tenang aja. Selamat sampai tujuan,” kataku tersenyum sambil mengacungkan jempol.
Rumah ku dan Kibo tak berjarak jauh. Gang rumah kami berhadapan. Itu lah alasan kenapa aku mau mengatarnya pulang. Sekalian jalan dan gak pake acara muter-muter lagi.
Sepanjang perjalanan kami bercerita panjang lebar. Mulai dari hal kecil di jalan, PR dan tugas yang menumpuk, sampai godaan-godaan Kibo karena aku sudah diizinkan Ibu membawa motor ke sekolah.
“Makasih udah dianterin. Sering-sering aja, Ne,” katanya sambil tertawa puas.
“He-eh he-eh,” aku mengiyakan saja. “Aku balik ya,”
“Oke, xie xie so much before yaaa,”
Aku mengangguk lalu meng-gas motor matic itu sampai ke ujung jalan. Jalanan cukup ramai. Aku berhenti sejenak, mencari celah untuk menyebrang. Sebuah angkot berhenti di depan ku. Aku sedikit jengkel. Seseorang turun dari angkot. Aku mengenali orang itu. Ia melihat ke arahku, tersenyum simpul. Aku hafal senyuman itu. Ia berjalan melaluiku. Aku baru tersadar saat angkot itu berlalu pergi. Spontan aku menoleh ke belakang, memastikan orang yang tersenyum pada ku adalah dia. Dia, anak yang ku jumpai di ujung jalan. Tapi aku tidak mendapatinya lagi. Ia menghilang di jalan itu. Entah bagaimana ia bisa secepat itu. Yang jelas, dia bukan Dementor. Itu yang ku yakini.
***
Pagi ini aku berangkat cukup pagi. Ada tugas yang harus dikumpulkan. Motor matic ini membawaku menembus atmosfer bumi yang masih beku.
Di ujung jalan itu aku berhenti, melihat sekeliling. Tidak ada siapa pun di sana. Aku sedikit menyesal, tak dapat menemui dia di sini. Sejak aku tidak naik angkot lagi ke sekolah, aku tak pernah lagi melihatnya. Di sekolah pun ia jarang kelihatan. Terakhir kali aku bertemu dengannya sekitar 2 minggu yang lalu. Saat pulang dari rumah Kibo. Setelah itu aku tidak pernah melihat batang hidungnya yang melebihi batang hidungku ini muncul.
Sebenarnya banyak hal yang ingin ku ketahui tentang dia. Sekedar namanya yang belum ku ketahui pun, boleh lah. Tapi entah mengapa, tak bisa. Mungkin dia memang bukan Prince Charming itu. Dan sekarang aku seperti memendam rasa padanya. Sedikit berharap tapi tak terlalu banyak.
Di sini lah aku, di ujung jalan. Dimana aku bertemu dengannya, berbicara padanya untuk pertama dan mungkin terakhir kalinya.
Aku menghela nafas. Udara dingin ini memaksaku meninggalkan ujung jalan ini. Motor matic ku kembali melaju. Di anganku terlantunkan Enchanted-nya Taylor Swift. Mungkin saat ini dia juga sedang melantunkan Enchanted versinya Owl City. Aku tersenyum, mengenang dia. Anak di ujung jalan itu.
Unsur Instrinsik
Tema : Pertemuan singkat di ujung jalan.
Judul : Di Ujung Jalan Itu
Tokoh/Penokohan : 1. Ine (aku) : baik, dingin, ramah, jutek (protagonist)
2. Ita : baik, suka bercanda (tritagonis)
3.Kibo : baik, pengertian kepada teman, suka bercanda (protagonist)
4. Ibu : baik, tenang, pengertian kepada anaknya (tritagonist)
5. Dia (anak lelaki) : misterius, tidak banyak bicara, ramah, murah senyum (tritagonist)
Latar : 1. Rumah 3. Sekolah 5. Tangga
2. Ujung jalan 4. Angkot 6. Kamar
Alur : Alur maju
Alur cepren ini adalah alur maju. Hal ini dapat dilihat dari kehidupan para tokohnya yang berjalan dari hari ke hari dan tidak adanya cerita mengenang masa lalu (flashback).
Sudut pandang : Orang pertama pelaku utama
Amanat : Saat kita bertemu dengan seseorang dan ingin mengetahui banyak hal tentang orang tersebut, maka sebaiknya kita terus berusaha dan mencari tahu dengan cepat tentang orang tersebut.
Gaya Bahasa : Cerpen ini menggunakan gaya bahasa yang sesuai dengan gaya bahasa remaja masa kini. Cerpen ini juga menyisipkan sedikit humor-humor ringan khas para remaja. Kata-kata yang digunakan juga tidak terlalu berat dan mudah dipahami. Meskipun terkadang ada beberapa kata yang diperjelas terlalu rinci yang dapat dimengerti ataupun lebih sulit untuk dimengerti.
XII IPA 1




