Dear, you. Hai, apa kabar? Masih ingat
aku? Yaa, sudah 4 tahun lebih kurangnya dari awal pertemuan kita. Wajar kalau
kamu sudah tidak mengingatku lagi. Tapi mungkin aku malah terkesima jika kamu
masih ingat aku. Kenapa? Bagaimana mungkin?!
Belakangan ini aku memang berniat
menuliskan ini kepadamu. Tiba-tiba saja aku rindu. Aneh ya? Hehe. Ada rasa yang
berkecamuk tiap kali aku ingin menulis, apakah aku akan mampu menyelesaikan
kata-kata rindu ini untukmu? Apakah nanti kamu akan tau kalau aku pernah
menulisnya untukmu? Aku ragu, tapi hasrat untuk melepas rindu padamu melalui
tulisan ini cukup untuk mengalahkan keraguan itu. Aku bingung, bagaimana jika
suatu saat nanti kamu tau dan kita punya hubungan special? Aah! Maaf kalau
khayalanku berlebihan. Aku juga takut, jika suatu saat nanti aku akan menyesal
karena sudah menuliskan hal ini, aku takut tidak bisa menerima kenyataan apa
pun itu nantinya. Walau aku tak tau apa yang sedang ku harapkan darimu. Namun aku
sadar, tak ada yang perlu ditakutkan. Tak ada yang perlu disesali selama
keputusan itu kita sendiri yang menentukan. Jadi, aku pasti tidak akan menyesal
pernah menulis ini untukmu.
Hari ini hujan. Aku tidak tau kalau
kamu juga sedang merasakan dinginnya atmosfer yang sama. Tiba-tiba saja aku
ingat sebuah lagu tentang hujan, yang tiba-tiba mengingatkanku pada dirimu dan
mendorong agar aku menulis. Ya, semuanya tiba-tiba. Kenapa? Ntahlah. Mungkin aku
sudah mencoba melupakanmu dan… berhasil. Tapi mungkin tidak juga, karena
tiba-tiba saja aku mampu menulis tentangmu. Lucu ya? Tiba-tiba. Well, sebuah lagu tentang hujan,
tentangmu, tentang kita, tentang masa lalu. Aku tidak memaksamu untuk
mengingatnya. Tapi jangan hakimi aku karena aku masih memiliki memori ini.
4 tahun lalu. Aku seorang remaja putri
berbadan mungil, dan kamu seorang remaja putra dengan tubuh yang cukup
proporsional walau tidak menjulang tinggi dibanding teman-temanmu yang lain. Kita
dipertemukan di sebuah kelas bimbingan. Ntah pertemuan kita memiliki maksud
atau tidak, yang pasti pertemuan itu sudah ditakdirkan. Aku duduk di bangkuku,
memandangi jam dinding berdetak. Ku rasa itu adalah hal terbaik yang bisa ku
lakukan saat itu daripada membicarakan orang lain dengan teman-teman perempuanku. Perhatianku beralih dari jam dinding ketika seorang anak lelaki masuk
kelas, mendobrak daun pintu yang ku anggap sebagai ketukan salam. Ya, anak
lelaki itu kamu. Aku terpaku padamu yang hanya berlalu sambil menunduk tersenyum
malu menuju barisan belakang, mataku masih memperhatikanmu. Aku geli sendiri
membayangkan diriku saat itu. Bisa dibilang, seperti kejadian FTV yang gagal
karena aku lah aktor yang berperan. Kita bukan anak baru di sini. Aku sudah
pernah melihatmu beberapa kali, tapi ntah kenapa hari itu aku memperhatikanmu,
selanjutnya selalu memikirkanmu. Bahkan kalimat-kalimat di papan tulis itu
menjadi acak tak karuan seakan menyimpan teka-teki akan namamu yang belum aku
tau. Huruf-huruf itu harus aku pecahkan! Aku harus mengetahui namamu!
3 kata, 13 huruf lengkapnya. Tapi aku
lebih senang melafalkan 1 kata dan 6 huruf pertama. Akhirnya aku tau namamu. Hari-hariku
sebagai remaja labil yang sudah move on
dari cinta monyetnya selalu dibayangi nama dan senyumanmu. Satu senyuman yang
paling melekat adalah senyuman pertama yang kamu berikan (ntah untukku atau
bukan) saat kamu masuk setelah mendobrak pintu kelas hari itu. Teman-temanku
pun ikut menjadi mak comblang, ku hargai itu. Tapi aku tak berharap banyak
darimu. Aku tak terlalu menganggap ini serius. Aku hanya senang membayangkan
senyumanmu. Tapi ntah kenapa aku melakukan usahaku sendiri. Mencari informasi
tentangmu, kehidupanmu dan semua hal yang berkaitan denganmu. Tidak sama halnya
denganku, kamu sepertinya sama sekali tak melihatku, I was invisible. Aku tak keberatan. Yang penting aku masih bisa
mengagumimu karena kamu juga tak keberatan, kan?
Sampai akhirnya aku hampir di titik
jenuh. Namun tiba-tiba kamu datang (walaupun hanya sebatas komentar sebuah foto
di akun social media milikku), seakan memberi harapan, aku merespon, dan kamu
diam lagi. Aku berhenti. Terserah bagaimana perasaanmu padaku. Terserah apakah
kamu juga memikirkan aku secara tiba-tiba saat pikiranmu melayang entah kemana.
Terserah jika kamu mempunyai lagu tentangku atau tidak, seperti halnya aku
terhadapmu. Semua terserah padamu, asal kamu tidak mengultimatumkan kesungkananmu
untuk kurindukan. Aku berhenti. Sampai tiba-tiba kamu muncul lagi. Aku sempat
berseri. Melakukan segala upaya untuk mendapatkan perhatianmu kembali. Sekali,
dua kali, aku berhasil. Selanjutnya… kamu masih sama saja seperti yang dulu. Aku
salah karena berharap terlalu banyak kali ini. Aku juga tak mengerti strategi
apa yang hendak kamu lakukan padaku. Kali ini, aku benar-benar berhenti.
Hujan malam ini masih enggan pergi. Membawaku
pada ingatan empat tahun yang lalu. Suasana yang sama, hujan. Senja itu kelas
kita sudah selesai. Kita (secara tekhnis, aku, kamu, teman-temanku dan
teman-temanmu) berada di trotoar jalan raya menunggu angkutan kota. Kita seperti
terpisah, bersisian di antara pohon palem. Kita berada di bawah hujan. Ntah bagaimana
denganmu. Tapi saat air langit menghujaniku, aku hanya memikirkanmu dan
senyumanmu. Tubuhku yang menggigil sempat-sempatnya memikirkan apakah kamu
masih bisa tersenyum padaku di tengah hujan ini? Kenangan bersama hujan ini
seperti satu-satunya kenangan manisku bersamamu, selain senyumanmu tentunya.
Empat tahun sudah berlalu. Tapi ntah
mengapa aku masih merasakan hal yang sama setiap kali melihat dan mengamatimu –-walau
hanya dari profil akun jejaring social--. Tapi aku juga merasakan hal yang
berbeda, ada yang mulai memudar. Aku tak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin
menyampaikan kerinduan padamu melalui tulisan dan hujan. Setidaknya, setiap
kali hujan datang, kenangan bersamamu ini lah yang seringkali berputar di
kepalaku. Aku tak berharap kamu membaca tulisan ini. Aku tak memaksamu untuk mengingat. Aku tak memaksamu untuk
mengenaliku. Aku tak memaksamu merasakan hal yang sama. Apalah yang bisa
diharapkan dari pertemuan singkat kita yang masih berlanjut sampai sekarang
walau tak pernah ada kata yang terucap dari bibir masing-masing, sekedar
bertegur sapa atau berkenalan satu sama lain. Aku tak pernah mendengar suaramu
secara langsung, begitupun kamu. Kita tidak bisu, tapi waktu telah membisukan
semuanya. Membiarkannya berlalu. Tak ada perkenalan, dan mungkin juga tidak ada
selamat tinggal. Dan aku tak pernah mengerti dengan ungkapan “biar hujan
menghapus jejakmu”. Tapi mungkin untuk saat ini, untuk kisah kita, itu lah yang
tepat. Dan terima kasih untuk hujan dan memori ini.
Dear, Uii
selamat malam, selamat menikmati hujan.





0 komentar:
Posting Komentar