Kamis, 18 Juli 2013

Dear, you.


          Dear, you. Hai, apa kabar? Masih ingat aku? Yaa, sudah 4 tahun lebih kurangnya dari awal pertemuan kita. Wajar kalau kamu sudah tidak mengingatku lagi. Tapi mungkin aku malah terkesima jika kamu masih ingat aku. Kenapa? Bagaimana mungkin?!
        Belakangan ini aku memang berniat menuliskan ini kepadamu. Tiba-tiba saja aku rindu. Aneh ya? Hehe. Ada rasa yang berkecamuk tiap kali aku ingin menulis, apakah aku akan mampu menyelesaikan kata-kata rindu ini untukmu? Apakah nanti kamu akan tau kalau aku pernah menulisnya untukmu? Aku ragu, tapi hasrat untuk melepas rindu padamu melalui tulisan ini cukup untuk mengalahkan keraguan itu. Aku bingung, bagaimana jika suatu saat nanti kamu tau dan kita punya hubungan special? Aah! Maaf kalau khayalanku berlebihan. Aku juga takut, jika suatu saat nanti aku akan menyesal karena sudah menuliskan hal ini, aku takut tidak bisa menerima kenyataan apa pun itu nantinya. Walau aku tak tau apa yang sedang ku harapkan darimu. Namun aku sadar, tak ada yang perlu ditakutkan. Tak ada yang perlu disesali selama keputusan itu kita sendiri yang menentukan. Jadi, aku pasti tidak akan menyesal pernah menulis ini untukmu.
          Hari ini hujan. Aku tidak tau kalau kamu juga sedang merasakan dinginnya atmosfer yang sama. Tiba-tiba saja aku ingat sebuah lagu tentang hujan, yang tiba-tiba mengingatkanku pada dirimu dan mendorong agar aku menulis. Ya, semuanya tiba-tiba. Kenapa? Ntahlah. Mungkin aku sudah mencoba melupakanmu dan… berhasil. Tapi mungkin tidak juga, karena tiba-tiba saja aku mampu menulis tentangmu. Lucu ya? Tiba-tiba. Well, sebuah lagu tentang hujan, tentangmu, tentang kita, tentang masa lalu. Aku tidak memaksamu untuk mengingatnya. Tapi jangan hakimi aku karena aku masih memiliki memori ini.
          4 tahun lalu. Aku seorang remaja putri berbadan mungil, dan kamu seorang remaja putra dengan tubuh yang cukup proporsional walau tidak menjulang tinggi dibanding teman-temanmu yang lain. Kita dipertemukan di sebuah kelas bimbingan. Ntah pertemuan kita memiliki maksud atau tidak, yang pasti pertemuan itu sudah ditakdirkan. Aku duduk di bangkuku, memandangi jam dinding berdetak. Ku rasa itu adalah hal terbaik yang bisa ku lakukan saat itu daripada membicarakan orang lain dengan teman-teman perempuanku. Perhatianku beralih dari jam dinding ketika seorang anak lelaki masuk kelas, mendobrak daun pintu yang ku anggap sebagai ketukan salam. Ya, anak lelaki itu kamu. Aku terpaku padamu yang hanya berlalu sambil menunduk tersenyum malu menuju barisan belakang, mataku masih memperhatikanmu. Aku geli sendiri membayangkan diriku saat itu. Bisa dibilang, seperti kejadian FTV yang gagal karena aku lah aktor yang berperan. Kita bukan anak baru di sini. Aku sudah pernah melihatmu beberapa kali, tapi ntah kenapa hari itu aku memperhatikanmu, selanjutnya selalu memikirkanmu. Bahkan kalimat-kalimat di papan tulis itu menjadi acak tak karuan seakan menyimpan teka-teki akan namamu yang belum aku tau. Huruf-huruf itu harus aku pecahkan! Aku harus mengetahui namamu!
          3 kata, 13 huruf lengkapnya. Tapi aku lebih senang melafalkan 1 kata dan 6 huruf pertama. Akhirnya aku tau namamu. Hari-hariku sebagai remaja labil yang sudah move on dari cinta monyetnya selalu dibayangi nama dan senyumanmu. Satu senyuman yang paling melekat adalah senyuman pertama yang kamu berikan (ntah untukku atau bukan) saat kamu masuk setelah mendobrak pintu kelas hari itu. Teman-temanku pun ikut menjadi mak comblang, ku hargai itu. Tapi aku tak berharap banyak darimu. Aku tak terlalu menganggap ini serius. Aku hanya senang membayangkan senyumanmu. Tapi ntah kenapa aku melakukan usahaku sendiri. Mencari informasi tentangmu, kehidupanmu dan semua hal yang berkaitan denganmu. Tidak sama halnya denganku, kamu sepertinya sama sekali tak melihatku, I was invisible. Aku tak keberatan. Yang penting aku masih bisa mengagumimu karena kamu juga tak keberatan, kan?
          Sampai akhirnya aku hampir di titik jenuh. Namun tiba-tiba kamu datang (walaupun hanya sebatas komentar sebuah foto di akun social media milikku), seakan memberi harapan, aku merespon, dan kamu diam lagi. Aku berhenti. Terserah bagaimana perasaanmu padaku. Terserah apakah kamu juga memikirkan aku secara tiba-tiba saat pikiranmu melayang entah kemana. Terserah jika kamu mempunyai lagu tentangku atau tidak, seperti halnya aku terhadapmu. Semua terserah padamu, asal kamu tidak mengultimatumkan kesungkananmu untuk kurindukan. Aku berhenti. Sampai tiba-tiba kamu muncul lagi. Aku sempat berseri. Melakukan segala upaya untuk mendapatkan perhatianmu kembali. Sekali, dua kali, aku berhasil. Selanjutnya… kamu masih sama saja seperti yang dulu. Aku salah karena berharap terlalu banyak kali ini. Aku juga tak mengerti strategi apa yang hendak kamu lakukan padaku. Kali ini, aku benar-benar berhenti.
          Hujan malam ini masih enggan pergi. Membawaku pada ingatan empat tahun yang lalu. Suasana yang sama, hujan. Senja itu kelas kita sudah selesai. Kita (secara tekhnis, aku, kamu, teman-temanku dan teman-temanmu) berada di trotoar jalan raya menunggu angkutan kota. Kita seperti terpisah, bersisian di antara pohon palem. Kita  berada di bawah hujan. Ntah bagaimana denganmu. Tapi saat air langit menghujaniku, aku hanya memikirkanmu dan senyumanmu. Tubuhku yang menggigil sempat-sempatnya memikirkan apakah kamu masih bisa tersenyum padaku di tengah hujan ini? Kenangan bersama hujan ini seperti satu-satunya kenangan manisku bersamamu, selain senyumanmu tentunya.
          Empat tahun sudah berlalu. Tapi ntah mengapa aku masih merasakan hal yang sama setiap kali melihat dan mengamatimu –-walau hanya dari profil akun jejaring social--. Tapi aku juga merasakan hal yang berbeda, ada yang mulai memudar. Aku tak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin menyampaikan kerinduan padamu melalui tulisan dan hujan. Setidaknya, setiap kali hujan datang, kenangan bersamamu ini lah yang seringkali berputar di kepalaku. Aku tak berharap kamu membaca tulisan ini. Aku tak memaksamu untuk mengingat. Aku tak memaksamu untuk mengenaliku. Aku tak memaksamu merasakan hal yang sama. Apalah yang bisa diharapkan dari pertemuan singkat kita yang masih berlanjut sampai sekarang walau tak pernah ada kata yang terucap dari bibir masing-masing, sekedar bertegur sapa atau berkenalan satu sama lain. Aku tak pernah mendengar suaramu secara langsung, begitupun kamu. Kita tidak bisu, tapi waktu telah membisukan semuanya. Membiarkannya berlalu. Tak ada perkenalan, dan mungkin juga tidak ada selamat tinggal. Dan aku tak pernah mengerti dengan ungkapan “biar hujan menghapus jejakmu”. Tapi mungkin untuk saat ini, untuk kisah kita, itu lah yang tepat. Dan terima kasih untuk hujan dan memori ini.

Dear, Uii
selamat malam, selamat menikmati hujan.
Read More

Pages

Credits

Diberdayakan oleh Blogger.