Selasa, 15 Desember 2015

When Was It The Last Time?

When was it the last time you were in love?
                Kapan terakhir kali jatuh cinta? Ah seperti sudah lama sekali.
                Kapan terakhir kali berbunga-bunga selain efek pakaian yang bermotif bunga-bunga? Pernah sih, tapi sudah lupa. Jadi, biarkan kali ini, yang satu ini diingat, ya. Hehe.
                ***
Sudah lama sekali sepertinya sejak terakhir kali insting stalking kembali nalar. Well, celebrities crushes are not counted. Nat Wolff, Niall Horan, Logan Lerman, Dylan O’brian, Thomas Sangster, Asa Butterfield, Channing Tatum, Joe Gordon-Levvit... Iya, aku memang masih sering stalk hal-hal yang tak penting sebenernya apalagi untuk referensi skripsi. Hal-hal yang sebenernya jauh di luar jangkauan untuk jadi realisasi dari mimpi siang bolong. Hal-hal yang cuma untuk memuaskan dahaga kekepoan ini.
Baiklah. Sudah lama sekali, sejak terakhir kali.
Singkat cerita, I’m in love with someone. Mungkin terlalu cepat untuk bilang kalau aku sedang jatuh cinta. Kalau dipikir-pikir, hal seperti ini sudah sering  terjadi, hanya saja, yang lainnya itu selalu dianggap angin lalu dan modus ‘cuma mengagumi’. Yang satu ini? Entahlah.
You’ve known what he looked like. Just my type. I dont have any particular type actually, which is bullshit. Hahahha. Kacamata, hidung mancung, pendiam, kinda unreachable, misterius.
***
Entah kenapa siang itu aku mendapati diriku duduk di bangku panjang kantin, dekat colokan, biar bisa ngecas kebutuhan yang perlu dicas. Aku yang biasanya tak pernah nyaman duduk di kantin, yang selalu menghindari area berbau bumbu indomie rebus dan asap rokok, hari itu malah ada di situ, bersama beberapa teman, entah untuk wifi gratis atau pertemuan dengan kawan-kawan PPL. Aku yang biasanya hanya menundukkan kepala ke meja atau fokus pada gadget, yang biasanya sangat tidak mau mengedarkan pandangan, kala itu entah kenapa mata ini jelalatan. Lalu dia muncul, sesosok yang entah dari mana, masuk ke kantin, clingak-clinguk mencari temannya, mungkin. Tatapan ini terpaku. Lama. Tak mau lepas. Aku biarkan mengambang di sana. Dia menatap balik? Sungguh? Entahlah. Mata ini tak dapat memastikan walau sudah pakai kacamata, aku rabun. Pandangan ini belum lepas. Pandangan ini ingin tahu. Dia di sana. Masih mengunci tatapan, antara menantang atau bingung. Siapa lah daku yang dengan sok beraninya memaksa mata mengamatinya.
Insting stalking mulai nalar kembali. Aku tau namanya. Sedikit tentangnya yang masih misteri. Aku tau jejaring sosialnya. Aku tak menambahkannya di dalam list pertemanan. Terlalu gengsi. Pengecut.
Setelahnya, beberapa kali kami berpapasan. Kemudian kami dipertemukan lagi dalam acara seminar. Aku tau aku akan bertemu dengannya lagi di sana, makanya aku mengiyakan ketika juniorku memintaku untuk jadi salah satu panitia acara itu. Hanya untuk bertemu dia yang juga panitia. Ehem.
Beberapa kali kami beradu pandang. Kikuk. Beberapa kali aku merasa dia membayangiku ketika acara berlangsung. Ah, kau hanya terbawa perasaan, Pin. Mungkin saja bukan itu maksud dia sebenarnya.
Hari ini kami seharusnya dipertemukan lagi. Tapi kami terpisah di antara puluhan mahasiswa di aula. Kesempatan itu datang. Aku memandangnya. Mencoba mengunci lagi tatapan itu. Dia belum menoleh. Dia belum menyadariku. Dia mencariku?! Oh! Yang benar saja khayalanmu itu! Nah! Dia melihat ke arahku. Aku masih menatapnya, makin menatapnya. Dia seperti malah menantang. Beberapa detik yang cukup lama kami mengadu pandang. Kali ini aku tak akan kalah. Dan ya, benar saja. Dia membuang muka akhirnya. Aku tersenyum puas. Aku yang menang dalam tatapan ngeri kali ini. Hahahaha.
***
Tak salah  bukan bila aku merasakan kupu-kupu di perut ini akhirnya bangun lagi? Menari-nari seakan di sana padang bunga yang indah. Namun akhirnya aku malah merasakan ada lebah yang menyengat. Mereka bilang, itu tandanya aku masih normal. Membuang prasangka selama ini karena terlalu lama sendiri.
Kau hanya harus tak banyak berharap, Pin. Nikmati saja masa-masa menjadi pengagum rahasia ini. Kau tak perlu memikirkan hal yang belum pasti jadi masa depanmu. Skripsi itu lebih penting. Sudah sampai bab berapa? Kau seharusnya lebih peduli pada dosen yang menunggumu bukan pada lelaki itu kau malah menunggu. Kalau memang baik, pasti dipertemukan lagi nanti di keadaan yang lebih baik. Hei, sadarlah. Baru saja temanmu bertanya siapa namanya, lelaki berambut ikal yang jarang sekali tak berantakan kalau berpakaian, yang pakai kacamata, yang kemarin satu acara menjadi panitia bersamamu, kau tau kan? Dan, oh! Dua gadis di depanmu, lihat lah, smartphone mereka masih mampu untuk memotret, tidak seperti smartphone-mu yang kemarin terendam air ketika kau mandi hujan hingga kameranya buram, dan apa...?! Gadis yang satu itu menunjuk layar smartphone kepada temannya yang menangkap gambar tepat di wajah lelakimu? Wah, dia sudah punya banyak penggemar ternyata.


Now playing: David Archuleta - Crush
Read More

Pages

Credits

Diberdayakan oleh Blogger.