When was it the last time you
were in love?
Kapan
terakhir kali jatuh cinta? Ah seperti sudah lama sekali.
Kapan
terakhir kali berbunga-bunga selain efek pakaian yang bermotif bunga-bunga?
Pernah sih, tapi sudah lupa. Jadi, biarkan kali ini, yang satu ini diingat, ya.
Hehe.
***
Sudah lama
sekali sepertinya sejak terakhir kali insting stalking kembali nalar. Well, celebrities crushes are not counted.
Nat Wolff, Niall Horan, Logan Lerman, Dylan O’brian, Thomas Sangster, Asa
Butterfield, Channing Tatum, Joe Gordon-Levvit... Iya, aku memang masih
sering stalk hal-hal yang tak penting sebenernya apalagi untuk referensi
skripsi. Hal-hal yang sebenernya jauh di luar jangkauan untuk jadi realisasi
dari mimpi siang bolong. Hal-hal yang cuma untuk memuaskan dahaga kekepoan ini.
Baiklah. Sudah
lama sekali, sejak terakhir kali.
Singkat
cerita, I’m in love with someone. Mungkin
terlalu cepat untuk bilang kalau aku sedang jatuh cinta. Kalau dipikir-pikir,
hal seperti ini sudah sering terjadi,
hanya saja, yang lainnya itu selalu dianggap angin lalu dan modus ‘cuma
mengagumi’. Yang satu ini? Entahlah.
You’ve known what he looked like. Just my
type. I dont have any particular type actually, which is bullshit. Hahahha. Kacamata,
hidung mancung, pendiam, kinda unreachable,
misterius.
***
Entah kenapa
siang itu aku mendapati diriku duduk di bangku panjang kantin, dekat colokan,
biar bisa ngecas kebutuhan yang perlu dicas. Aku yang biasanya tak pernah
nyaman duduk di kantin, yang selalu menghindari area berbau bumbu indomie rebus
dan asap rokok, hari itu malah ada di situ, bersama beberapa teman, entah untuk
wifi gratis atau pertemuan dengan kawan-kawan PPL. Aku yang biasanya hanya
menundukkan kepala ke meja atau fokus pada gadget, yang biasanya sangat tidak
mau mengedarkan pandangan, kala itu entah kenapa mata ini jelalatan. Lalu dia
muncul, sesosok yang entah dari mana, masuk ke kantin, clingak-clinguk mencari
temannya, mungkin. Tatapan ini terpaku. Lama. Tak mau lepas. Aku biarkan
mengambang di sana. Dia menatap balik? Sungguh? Entahlah. Mata ini tak dapat
memastikan walau sudah pakai kacamata, aku rabun. Pandangan ini belum lepas.
Pandangan ini ingin tahu. Dia di sana. Masih mengunci tatapan, antara menantang
atau bingung. Siapa lah daku yang dengan sok beraninya memaksa mata
mengamatinya.
Insting
stalking mulai nalar kembali. Aku tau namanya. Sedikit tentangnya yang masih
misteri. Aku tau jejaring sosialnya. Aku tak menambahkannya di dalam list
pertemanan. Terlalu gengsi. Pengecut.
Setelahnya,
beberapa kali kami berpapasan. Kemudian kami dipertemukan lagi dalam acara
seminar. Aku tau aku akan bertemu dengannya lagi di sana, makanya aku mengiyakan
ketika juniorku memintaku untuk jadi salah satu panitia acara itu. Hanya untuk
bertemu dia yang juga panitia. Ehem.
Beberapa kali kami
beradu pandang. Kikuk. Beberapa kali aku merasa dia membayangiku ketika acara
berlangsung. Ah, kau hanya terbawa perasaan, Pin. Mungkin saja bukan itu maksud
dia sebenarnya.
Hari ini kami
seharusnya dipertemukan lagi. Tapi kami terpisah di antara puluhan mahasiswa di
aula. Kesempatan itu datang. Aku memandangnya. Mencoba mengunci lagi tatapan
itu. Dia belum menoleh. Dia belum menyadariku. Dia mencariku?! Oh! Yang benar
saja khayalanmu itu! Nah! Dia melihat ke arahku. Aku masih menatapnya, makin
menatapnya. Dia seperti malah menantang. Beberapa detik yang cukup lama kami
mengadu pandang. Kali ini aku tak akan kalah. Dan ya, benar saja. Dia membuang
muka akhirnya. Aku tersenyum puas. Aku yang menang dalam tatapan ngeri kali
ini. Hahahaha.
***
Tak salah bukan bila aku merasakan kupu-kupu di perut
ini akhirnya bangun lagi? Menari-nari seakan di sana padang bunga yang indah.
Namun akhirnya aku malah merasakan ada lebah yang menyengat. Mereka bilang, itu
tandanya aku masih normal. Membuang prasangka selama ini karena terlalu lama
sendiri.
Kau hanya
harus tak banyak berharap, Pin. Nikmati saja masa-masa menjadi pengagum rahasia
ini. Kau tak perlu memikirkan hal yang belum pasti jadi masa depanmu. Skripsi
itu lebih penting. Sudah sampai bab berapa? Kau seharusnya lebih peduli pada
dosen yang menunggumu bukan pada lelaki itu kau malah menunggu. Kalau memang
baik, pasti dipertemukan lagi nanti di keadaan yang lebih baik. Hei, sadarlah.
Baru saja temanmu bertanya siapa namanya, lelaki berambut ikal yang jarang
sekali tak berantakan kalau berpakaian, yang pakai kacamata, yang kemarin satu
acara menjadi panitia bersamamu, kau tau kan? Dan, oh! Dua gadis di depanmu,
lihat lah, smartphone mereka masih
mampu untuk memotret, tidak seperti smartphone-mu
yang kemarin terendam air ketika kau mandi hujan hingga kameranya buram, dan
apa...?! Gadis yang satu itu menunjuk layar smartphone
kepada temannya yang menangkap gambar tepat di wajah lelakimu? Wah, dia sudah
punya banyak penggemar ternyata.
Now playing: David Archuleta - Crush




