Kamis, 28 April 2016

Latest Second (You Did)

               Begini, aku tak pandai berpuisi atau merangkai kata indah bak pujangga. Aku juga tak mampu berkata langsung padamu. Jadi, aku memilih menulis saja. Menulis sebuah surat, ya katakanlah demikian, kepadamu. Ntah nanti sempat kau baca atau tidak. Ntah nanti sampai padamu atau tidak. Tulisan ini akan tetap tertulis dariku untukmu.
               Kau tahu? Aku saat ini bingung. Apakah aku harus marah, gelisah atau resah namun yang jelas aku sedang gundah. Kali ini, kau penyebabnya. Aku menyalahkanmu.
               Love at the first sight, classic memang. Tapi aku sering kali terjebak ke sana dan yang menjeratku pun tetap sama. Pria berkacamata yang ntah kenapa selalu terlihat misterius dan menyebalkan tapi menggelitik rasa ingin tahuku. Kau adalah pria berkacamata yang kesekian kalinya menjeratku.
               Pertemuan kita singkat saja. Biarlah aku bercerita versiku. Aku datang terlambat ke pesta pernikahan itu, pesta pernikahan kakak teman karibku. Para tamu undangan yang datang tumpah ruah meskipun malam telah menjelang. Aku dan teman-temanku memilih mengamankan diri di dalam rumah mempelai, mencari tempat aman untuk menyantap hidangan dan memanjakan perut yang meraung. Aku yang kelelahan sepulang dari kampus di akhir pekan mencoba untuk tak terlalu peduli dengan keadaan sekitar dan mengacuhkan semua. Yang aku pikirkan saat itu; aku telah berhasil datang dan akan segera pulang, berjumpa dengan teman-temanku sudah cukup untuk melepas rindu dan rasa bersalah karena tak bisa membantu mempelai jadi pagar ayu pagi itu, ehem. Dan tiba-tiba kau muncul. Sesekali kau lewat, membantu memegangi gaun mempelai wanita yang berjalan ke ruang ganti. Aku tak peduli. Biar saja, aku masih lapar, semangkuk baso di depanku lebih menggoda untuk disantap. Kau lewat lagi, aku menyadari kau karena kacamatamu. Jangan heran, aku memang punya ketertarikan aneh kepada manusia yang memakai kacamata di wajahnya. Aku sempat berfikir, “Kau.” Namun segera kuenyahkan. Aku berpikir ini bukan saat yang tepat. Hingga salah seorang temanku menyapamu, meminta untuk memotret kami sekali saja karena aku baru datang. Ya, kau sang ‘Tukang Poto’ di acara itu. Kau menolaknya. Aku menanggapi dengan candaan. Kau yang sudah siap bertugas malam itu, sambil bergegas menumpahkan segala kecakapan canda.
               Kau tak sungkan berbagi cerita. Sayangnya saat itu aku terlalu cukup lelah sehingga tak terlalu mempedulikan hal yang sangat menarik untuk kau perbincangkan. Aku malah menghindari topik yang membuatmu bersemangat. Namun tenang saja, aku punya persepsi sendiri tentang kau, yang merujuk ke tentang kita. Kau dan aku sedikit banyaknya punya kesamaan. Kita punya mimpi yang cukup sama, prinsip dan komitmen yang sama, rencana kehidupan yang sama, selera humor (yang secara singkat aku tangkap) sama atau mungkin aku hanya menerapkan ilmu Cocoklogi di sini. Satu hal lain yang ingin ku katakan, kau berbeda, berbeda dari mereka kebanyakan yang selama ini mencuri perhatianku. I thought that you had my zing.
               Singkatnya, candaan itu berubah menjadi hal yang aku pikirkan sampai saat ini. Kau bisa bilang aku yang terlalu membawa perasaan ini. Baiklah, terserahmu saja. Tapi perlu kau tahu, sesungguhnya aku berusaha keras untuk menolak ini semua. Namun semakin aku menolak semakin pula kupikirkan kenyamanan yang kau tawarkan. Ditambah lagi teman-temanku yang meyakinkan. Maaf, aku bukan seorang penguntit namun jika ada hal yang sangat ingin aku tahu, maka aku akan mencari tahu hingga tuntas rasa ingin tahu ini terpenuhi. Sedikit banyaknya aku tahu tentang dirimu.  Aku hanya memuaskan diriku.
                Sejak saat itu, kita memang tak pernah berkomunikasi lagi. Awalnya, aku memang tak berharap lebih. Kehidupanmu adalah punyamu dan kehidupanku adalah punyaku. Maaf jika aku sedikit membuatmu tak nyaman karena tindakanku. Jujur saja, hingga saat ini aku masih terus memikirkanmu. Tak tahu aku apakah kau juga begitu.
               Klasik memang ketika aku mendengar orang bilang; kalau sudah nyaman, apapun tak dihiraukan. Awalnya aku rasa itu cuma omong kosong orang yang dimabuk cinta. Hah! Yang benar saja. Kau sedang berada di atas awan, kawan? Bermimpi kau,ya? Namun kali ini sepertinya aku yang sedang bermimpi di atas awan. Kalau sudah nyaman, mau buat apa? Ya, mau ku ungkapkan bagaimana lagi kenyamanan yang tak sampai enam puluh menit itu? Ha! Aku sudah gila sepertinya.
               Sudah ya, sampai sini saja dulu. Percuma juga rasanya aku menulis panjang lebar tapi kau tak mungkin membacanya. Kau tau kan, aku sangat kesal padamu saat ini. Kenapa? Karena kau membuatku menggantung diriku sendiri di ambang angan. Kau membuatku goyah akan komitmenku. Kau membuat tembok tinggi itu hampir rela aku hancurkan untukmu. Kau tahu, susah payah aku membangunnya. Keras aku menyamankan diriku dalam kesendirian. Bah! Tiba-tiba kau seenaknya saja menghembuskan angin itu. Semilir yang menyisir dedaunan dan menghelai sela pondasi ini. Kau berhasil. 
Maafkan aku yang mengganggu kehidupanmu sebentar. Teruskanlah mimpimu. Teguhlah pada komitmenmu. Aku berusaha menghargai. Karena kita sama. Aku pun begitu, ingin dihargai prinsip dan komitmennya serta didukung mimpinya. Mungkin kita akan bertemu lagi, entah kapan dan dengan cara yang bagaimana.
               Terima kasih sudah hadir sedetik kemarin. Ntah kau memang hanya singgah atau akan kembali lagi dan menetap nanti. Ntah kau sebagai kesan atau pelajaran.
Sampai bertemu lagi.
Kau, berjuanglah.
Bila kau ingin aku menunggu, aku di sini.
Kalau kau ingin aku pergi, katakan saja.
Aku ingin tahu.


Sincerely,
ku tebak, kau belum tau namaku.
Read More

Selasa, 15 Desember 2015

When Was It The Last Time?

When was it the last time you were in love?
                Kapan terakhir kali jatuh cinta? Ah seperti sudah lama sekali.
                Kapan terakhir kali berbunga-bunga selain efek pakaian yang bermotif bunga-bunga? Pernah sih, tapi sudah lupa. Jadi, biarkan kali ini, yang satu ini diingat, ya. Hehe.
                ***
Sudah lama sekali sepertinya sejak terakhir kali insting stalking kembali nalar. Well, celebrities crushes are not counted. Nat Wolff, Niall Horan, Logan Lerman, Dylan O’brian, Thomas Sangster, Asa Butterfield, Channing Tatum, Joe Gordon-Levvit... Iya, aku memang masih sering stalk hal-hal yang tak penting sebenernya apalagi untuk referensi skripsi. Hal-hal yang sebenernya jauh di luar jangkauan untuk jadi realisasi dari mimpi siang bolong. Hal-hal yang cuma untuk memuaskan dahaga kekepoan ini.
Baiklah. Sudah lama sekali, sejak terakhir kali.
Singkat cerita, I’m in love with someone. Mungkin terlalu cepat untuk bilang kalau aku sedang jatuh cinta. Kalau dipikir-pikir, hal seperti ini sudah sering  terjadi, hanya saja, yang lainnya itu selalu dianggap angin lalu dan modus ‘cuma mengagumi’. Yang satu ini? Entahlah.
You’ve known what he looked like. Just my type. I dont have any particular type actually, which is bullshit. Hahahha. Kacamata, hidung mancung, pendiam, kinda unreachable, misterius.
***
Entah kenapa siang itu aku mendapati diriku duduk di bangku panjang kantin, dekat colokan, biar bisa ngecas kebutuhan yang perlu dicas. Aku yang biasanya tak pernah nyaman duduk di kantin, yang selalu menghindari area berbau bumbu indomie rebus dan asap rokok, hari itu malah ada di situ, bersama beberapa teman, entah untuk wifi gratis atau pertemuan dengan kawan-kawan PPL. Aku yang biasanya hanya menundukkan kepala ke meja atau fokus pada gadget, yang biasanya sangat tidak mau mengedarkan pandangan, kala itu entah kenapa mata ini jelalatan. Lalu dia muncul, sesosok yang entah dari mana, masuk ke kantin, clingak-clinguk mencari temannya, mungkin. Tatapan ini terpaku. Lama. Tak mau lepas. Aku biarkan mengambang di sana. Dia menatap balik? Sungguh? Entahlah. Mata ini tak dapat memastikan walau sudah pakai kacamata, aku rabun. Pandangan ini belum lepas. Pandangan ini ingin tahu. Dia di sana. Masih mengunci tatapan, antara menantang atau bingung. Siapa lah daku yang dengan sok beraninya memaksa mata mengamatinya.
Insting stalking mulai nalar kembali. Aku tau namanya. Sedikit tentangnya yang masih misteri. Aku tau jejaring sosialnya. Aku tak menambahkannya di dalam list pertemanan. Terlalu gengsi. Pengecut.
Setelahnya, beberapa kali kami berpapasan. Kemudian kami dipertemukan lagi dalam acara seminar. Aku tau aku akan bertemu dengannya lagi di sana, makanya aku mengiyakan ketika juniorku memintaku untuk jadi salah satu panitia acara itu. Hanya untuk bertemu dia yang juga panitia. Ehem.
Beberapa kali kami beradu pandang. Kikuk. Beberapa kali aku merasa dia membayangiku ketika acara berlangsung. Ah, kau hanya terbawa perasaan, Pin. Mungkin saja bukan itu maksud dia sebenarnya.
Hari ini kami seharusnya dipertemukan lagi. Tapi kami terpisah di antara puluhan mahasiswa di aula. Kesempatan itu datang. Aku memandangnya. Mencoba mengunci lagi tatapan itu. Dia belum menoleh. Dia belum menyadariku. Dia mencariku?! Oh! Yang benar saja khayalanmu itu! Nah! Dia melihat ke arahku. Aku masih menatapnya, makin menatapnya. Dia seperti malah menantang. Beberapa detik yang cukup lama kami mengadu pandang. Kali ini aku tak akan kalah. Dan ya, benar saja. Dia membuang muka akhirnya. Aku tersenyum puas. Aku yang menang dalam tatapan ngeri kali ini. Hahahaha.
***
Tak salah  bukan bila aku merasakan kupu-kupu di perut ini akhirnya bangun lagi? Menari-nari seakan di sana padang bunga yang indah. Namun akhirnya aku malah merasakan ada lebah yang menyengat. Mereka bilang, itu tandanya aku masih normal. Membuang prasangka selama ini karena terlalu lama sendiri.
Kau hanya harus tak banyak berharap, Pin. Nikmati saja masa-masa menjadi pengagum rahasia ini. Kau tak perlu memikirkan hal yang belum pasti jadi masa depanmu. Skripsi itu lebih penting. Sudah sampai bab berapa? Kau seharusnya lebih peduli pada dosen yang menunggumu bukan pada lelaki itu kau malah menunggu. Kalau memang baik, pasti dipertemukan lagi nanti di keadaan yang lebih baik. Hei, sadarlah. Baru saja temanmu bertanya siapa namanya, lelaki berambut ikal yang jarang sekali tak berantakan kalau berpakaian, yang pakai kacamata, yang kemarin satu acara menjadi panitia bersamamu, kau tau kan? Dan, oh! Dua gadis di depanmu, lihat lah, smartphone mereka masih mampu untuk memotret, tidak seperti smartphone-mu yang kemarin terendam air ketika kau mandi hujan hingga kameranya buram, dan apa...?! Gadis yang satu itu menunjuk layar smartphone kepada temannya yang menangkap gambar tepat di wajah lelakimu? Wah, dia sudah punya banyak penggemar ternyata.


Now playing: David Archuleta - Crush
Read More

Sabtu, 11 Januari 2014

(Have to) do what I love and love what I do

                Katakanlah aku galau malam tadi. Berat. Lutut ini saja masih terasa lunglai. Mataku tetap sayu dan sembab seperti biasanya. Pikiran lebih makin bercabang dan kacau.. Padahal hari ini beberapa lembar rupiah itu baru saja mengisi dompet yang kandas. Tapi aku merasa tak pantas. Ada sebabnya
                Jadi begini, sudah hampir setahun aku menjalani pra-profesi yang ujung-ujungnya, mau gak mau jadi masa depanku nanti. Sebagai seorang pemula, tentu ada banyak suka-duka yang dialami. Ya, beberapa bulan belakangan aku belajar mandiri dan belajar mencari sesuap napas kehidupan. Aku mengajar. Awalnya, memang keinginanku yang kuat untuk mulai berkarier karena bosan akan kegiatan sehari-hari yang, yaaah… bilang saja kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang. Karena sehabis kuliah aku gak tau mau ngapain lagi, mau kemana dan bagaimana. Daripada kelayapan gak jelas dan berujung menghabiskan lembaran berharga itu, aku putuskan untuk langsung pulang ke rumah sehabis mata kuliah untuk jemurin pakaian yang terancam bau apek kalau gak dijemur.. Ya, aku cupu, kuper, dan lain-lain. Jadi, dimulai dari mengubek-ubek teman yang sudah duluan terjun ke bidang edukasi ini. Iri, jelas. Mereka saja sudah mulai, lah aku kapan? Mulai lah pikiranku berangan, ‘Kapan aku punya anak didik yang bisa jadi sebagai batu loncatan.’ Karena semuanya butuh praktek, gak cuma teori yang dijelaskan panjang lebar sama dosen tentang peserta didik, karakteristiknya, proses-teknik-metode-strategi mengajar yang baik. Aku harus bisa mempraktekkannya. Aku harus mengajar. Karena aku tau bahwa manusia adalah apa yang dipikirkannya, maka terjadilah. Aku mengajar, -sampai saat ini-.
                Murid pertamaku seorang siswa SMP tingkat akhir waktu itu. Sejauh ini, gak ada masalah yang berat banget buat ngadepin dia, kecuali kelabilannya di masa remaja. Murid kedua, seorang anak pasangan dokter yang bercita-cita ingin menjadi dokter pula. Saking terobsesinya dia, tulisannya sampai saat ini gak pernah bisa aku mengerti. Saat ngajar dia, aku sempat gelagapan. Aku memang berasal dari jurusan eksakta, tapi aku lebih suka matematika daripada pelajaran eksakta berumus dan tentang makhluk hidup lainnya. Sedangkan yang harus aku ajarkan adalah seorang anak yang akan menghadapi UN di tingkat dasar dengan kemampuan intelektual yang cukup lumayan tinggi karena dia hapal luar kepala hampir semua catatannya. Aku yang udah berpaling dari eksakta dan lebih mendalami ilmu bahasa jelas kewalahan. Walaupun eksakta dasar, tapi ada juga pelajaran yang gak aku kuasai karena jujur saja dari dulu aku gak pernah serius masalah belajar apalagi menghapal. Aku muak. Baiklah, singkatnya, aku terima saja dibilang bego oleh si anak ini. meskipun dia gak secara langsung bilang ke aku. Oke, kadang dia keceplosan nyatain begituan. Ah, sudahlah. Aku memang oon.
                Murid ketiga, seorang cucu dari Opung di suatu tempat nun tak cukup jauh di sana, anak badung yang buat aku nyerah gak sampai waktu dua bulan tapi tetap aku lanjutkan hingga beberapa bulan ke depannya karena (selain paksaan) juga dorongan dari Abang pembimbing. Anak ini hobi bernegosiasi. Mulai dari jam pelajaran yang seharusnya 2 jam per/pertemuan menjadi 1,5 jam sampai materi pelajaran apa yang harus dibahas pun dikortingnya. Sedikit tau tentang latar belakangnya, aku mencoba untuk melakukan beberapa strategi, misalnya belajar sambil diselingi games atau cerita tentang hari di sekolahnya. Singkatnya, aku berusaha menjadi orang yang selalu ada buat dia di saat kesepian. Gaktau kenapa. Aneh, ya? Hmm. Gak aneh kok, wajar.
                Murid keempat, anak cewek pertama yang jadi muridku. Awalnya aku ngerasa bisa mengatasi si anak cewek yang notabene adalah keponakan salah seorang kawan lama. Ditambah lagi dia adalah seorang cewek, jadi aku berasumsi bahwa sesama cewek, kami bisa bekerja sama dalam hal apapun yang harus kami lakukan. Terlepas dari orangtuanya yang punya urusan dan seakan membuatku memiliki tanggung jawab besar bagi anak mereka, ‘You’re mine, girl.’ Tapi nggak. Aku salah. You’re mine,girl-itu gak terjadi sama sekali. Awalnya asik aja sih, kita bisa kompromi. Dia juga adem ayem. Lama-lama keadaan berubah. Dia mulai ngelakuin hal-hal yang sempat aku bayangin yang gak seharusnya terjadi. Tapi ini terjadi. OH, GOD! Lagi-lagi, aku mencoba sabar, mengintropeksi cara belajar dan diri sendiri. Beberapa bulan terkahir aku mulai menyerah, namun masih ada saja yang menahan. Aku diberi kesempatan. Tapi sepertinya gak aku gunakan baik-baik.
                Dari keempat anak di atas, kalau dipresentasekan, nilai keberhasilanku sebagai pendidik sangat rendah. Mungkin gak sampai 23%. Honestly. Dilihat dari nilai raport yang gak naik, syukur kalau stabil laah ini malah turun. Sedih. Kecewa. Hancur.

AKU GAGAL.
                Sadar apa yang aku lakukan di atas? Satu hal yang seharusnya aku lakukan dari awal tapi gak aku lakukan sampai sekarang. Aku gak tegas. Gak salah sepenuhnya kalau dalam mengajar aku gak tegas dan ngasih sanksi. Dalam mempelajari pembelajaran, ada satu hal yang dinamakan PAKEM; Proses Pembelajaran yang Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (kalo gak salah itu kepanjangannya hahahah lupaaa cyiiin). Hal yang paling aku dominankan adalah poin terakhir; menyenangkan. Karena sang pembimbingpun bilang kalau menjadikan suatu kelas yang menyenangkan termasuk hal yang cukup sulit dalam pembelajaran. Jadi, aku bertekad untuk selalu membuat kelas yang aku ajar jadi menyenangkan. Dalam prosesnya, aku gak terlalu membebani anak-anak ini untuk harus mengerti suatu materi dalam satu hari. Kapan mereka bisanya aja. Aku gak mau memaksakan kemampuan karena takut ntar otaknya berasap. Oke, aku salah. Aku gak punya target. Dan waktu mengajar, biasanya kami santai sih, aku biasa ngeluarin lelucon-lelucon yang buat suasana gak garing, karena sesungguhnya aku benar-benar membenci ketegangan dan keseriusan yang teramat kaku. Oke, di sini aku salah lagi. Terlalu banyak lelucon dari awal jadi si anak sama sekali gak takut samaku. Bukan mereka gak menghargai, tapi mereka lebih melihat sisi yang lain dibanding sisi kalau saja aku bisa marah dan mengeluarkan musang ekor sembilan ini suatu saat.
                Dari awal berkarier (ceileeeh) aku punya satu misi untuk gak marah-marah sama anak didik, aku gak mau buat anak-anak takut samaku gara-gara aku galak. Sejujurnya, mari kita berteman, itu cukup. Aku mau mereka menerima materi yang aku kasih dengan santai tapi serius, gak terbebani harus bisa yang penting mereka paham. Buat apa bisa kalo gak paham? Kalau yang paham pasti bisa kan?! Mungkin karena saking santainya metode yang aku kasih (ngikut dari diri sendiri yang terlalu santai menanggapi masalah pfftt) mereka jadi kurang serius. Aku juga gak mau marah karena gak mau cepat tua dan keriput padahal itu sangat tidak mungkin di semua keadaan. Jadi, sebisa mungkin aku menahan emosi karena selain gak mau buat mereka takut  aku juga gak mau cepat keriput. Oke, aku egois.
                Resolusi di tahun baru Masehi ini salah satunya adalah: tegas, bisa marahin anak orang. Tapi apa daya, aku tetap gak bisa. Udah dari dulu pun aku bertekad dari rumah; kalau aja mereka bandel, ngelawan, aku siapin kuda-kuda ngeluarin musang ekor satu. Tapi nihil. Aku luluh. Setiap kali ngeliat mereka ngambek, merengut bahkan menciarkan tangisan karena kesal oleh gertakanku, aku luluh, gak tega ngeliat mereka lebih badmood dari itu. Maka dengan sebisa perjuangan ku ubah ekor musang itu jadi pita Hello Kitty. Ah, lembek! Aku pun heran. Kenapa gini? Kenapa aku gak bisa marah sama mereka? Padahal tiap saat aku marah-marahan sama adekku di rumah. Jangan bilang aku psycho. Pft.

                Semua orang ingin diingat. Bagaimanapun dan oleh siapapun. Aku pun begitu. Aku cuma ingin suatu saat ketika orang lain (mereka) mengingatku, yang diingat adalah; guru yang pernah menjadi teman mereka. Bukan; guru kejam yang cerewet dan suka ngebentak nun cungkring pula. Sukur-sukur gak disumpahin. But remember¸ kamu pernah sekolah kan, saat reuni dan bernostalgia dengan teman-teman sekolahmu nanti, guru mana yang lebih kamu ingat dan lebih banyak punya cerita? Yang biasanya kalem dan adem ayem atau guru yang terkenal killer dengan sejuta ocehan dan hukuman? It’s your choice.  Mengajar bukanlah hal yang mudah, kawan namun tetap saja berbagi ilmu itu indah.

Oh ya. Aku pun sadar aku tak harusnya terlalu cuek kayak gini dan mulai, well, lebih perhatian pada apapun dan harus lebih banyak belajar lagi. Jadi, baiklah, aku akan mulai mengerjakan tugas RPP dari beberapa bulan yang lalu dan harus dikumpul Senin nanti. Bye.
Oiya. one more thing. I’m just wondering if you have some other experiences, maybe we can talk and share each other. Nice. Thanks. :)
Read More

Pages

Credits

Diberdayakan oleh Blogger.