‘Ndah, kapan kita buat mading lagi?’
‘Pengen buat mading lagi yaaa,’ Sepasang mata itu masih tetap saja menerawang …
Itulah yang biasanya aku tanya tiap kali papasan sama @ndahayoo, sang Ketua wehehehe. Mungkin dia pun udah sangat teramat sekali bosennya dengerin kalimat-kalimat yang keluar dari organ yang berada di bawah hidung ini, mulut. Tapi itu lah nyatanya. Kangen, iya. Aku memang rindu. Yang bisa ngelepas rasa rindu ku sama kotak kayu berukuran 2 x 1,5 meter yang dilapis kaca itu cuma nanyak hal yang bandingannya 1:23 buat dilakuin sama siswi kelas XII kayak kami ini. Atau dengan mandangin kotak yang biasa disebut ‘mading’ itu. Pengen rasanya ikutan sama adik kelas yang kebagian jatah buat ngisi mading. Tapi gak mungkin. Biarkan mereka berkreasi tanpa aku ikut campur tangan karena jujur nih, nasi campur atau es campur itu lebih enak -___-. Bukan gak percaya atau gak puas atau gak mengapresiasikan atau gak menghargai karya dan kreasi yang mereka tuangkan, tetapi aku ngerasa, apa yang mereka tuang, gak sampe tumpah. Mereka kurang maksimal, padahal mereka punya inovasi yang sangat bagus setiap kali mereka ngisi dan ngehias mading. Itulah yang bisa aku liat dari beberapa mading kelas buatan tangan adek-adek kelas tercinta. But don’t worry. You had done your best, guys! Well done! Those were beautiful! Dan hal itu juga lah yang sering kali buat aku gregetan ngebet pengen kali balik ke kerjaan lama, nge-Mading. Meskipun jabatan kami *ceilah jabatan meeen* udah dicopot sejak sekitar ½ tahun yang lalu. Hal itu lah yang buat aku semakin rindu rindu rinduuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu sama Mading melebihi rindunya aku sama seseorang *curcol ciiyeee curcol~* *siyalalalalaaa*.
Playlist song
Lagu lawas, lupa judulnya
‘rinduuuuu mengapa rindu hatikuuuu~ tiada tertaaaahan kau tinggalkan daku seorang…
Kalau hatiku sedang rinduuu pada siapa ku mengadu…..’ *goyang brush kamar mandi*
But we got one more chance! Alhamdulillah. Kami (aku dan @ndahayoo, kami berdua dipertemukan kembali dalam mading. Keseringan juga gitu sih, nge-mading Cuma berdua ._.v) dikasih kesempatan untuk ngisi mading lagi. Dan tentunya kami gak nolak kesempatan yang gak dijamin datang dua kali ini! Mungkin memang gak sama kayak mading yang biasanya kami buat, Mading OSIS. Kali ini kami ditugaskan untuk ngisi Mading Kelas. Memang gak jauh beda sih Mading OSIS sama Mading Kelas, bedanya cuma tempatnya yang berseberangan dan terpisah oleh Wi-Fi Corner hahaha oke oke, kalau mading kelas, ada tempat khusus buat nempatin personel-personel Boy-Girl Band-nya eeehhh maksudnya para awak siswa-siswi kelasnya gitu loooh weee :D.
Last Christmas-Natal Kemarin
Tema yang kami dapat adalah Christmas and Happy New Year! Berhubung karna deketan sama hari Natal dan berada di penghujung tahun. Kami udah dapet konsep dan apa aja yang bakal kami isi di mading yang ter-rindu-kan itu. Karena ini bukanlah mading bertema demikian yang baru pertama kali kami dapet. Tahun lalu, kami juga udah pernah nge-mading dengan tema demikian tersebut. So, it wouldn’t be so hard, rite? ;D. Mading Natal tahun lalu cukup sangat mengesankan bagi kami, kru yang bertugas. Yang kami lakuin pas tahun lalu juga maksimal. Jadi, kami gak mau mading yang kami buat ini kalah bagusnya sama yang tahun lalu. Bagian yang paling aku suka di mading tahun ini adalah yakni antara lain pohon natal yang terbuat dari poto (kami, seluruh anak HOMPIMPA dan wali kelas) berukuran 2 x 3 cm di sisi kanan-kiri mading. Yap! Poto yang jumlahnya 42 itu dibagi jadi 21-21 buat masing-masing pohon natal dari karton yang terlapis origami hijau-merah-merah-hijau. Sama kayak pohon natal tahun lalu, bedanya, pohon natal tahun lalu dibuat sama Ayuk dari permen Alpenliebe-Relaxa-Kiss. Bagian lain dari mading tahun ini yang aku suka adlah bacaan Merry X-Mas and Happy New Year yang dibuat sama @ndahayoo. Meski simple, tapi keliatannya bagus banget! Naaah, kalo natal yang kemarin, aku suka kapas-kapas yang kayak salju ditaburin di mading dan teras-madingnya. Terus ada juga hiasan-hiasan dari kain planel yang dibuat sama @gitcaca @mutiarasndr. Bentuknya ada yang kaus kaki, tongkat permen sama ginger bread. Hiasan dari kain planel itu juga kami pake buat mading kali ini. Dan malah hampir 50% lebih bahannya kami ambil dari mading-mading kemarin (rumbai-rumbai hiasan natal), kan milik kita bersamaaaaa. Itung-itung dimanfaatin daripada ntar malah mubajir, lagian males kalo harus buat lagi, RIBET! Nyiahahahahahahahahahaha :D.
Tema yang kami dapat adalah Christmas and Happy New Year! Berhubung karna deketan sama hari Natal dan berada di penghujung tahun. Kami udah dapet konsep dan apa aja yang bakal kami isi di mading yang ter-rindu-kan itu. Karena ini bukanlah mading bertema demikian yang baru pertama kali kami dapet. Tahun lalu, kami juga udah pernah nge-mading dengan tema demikian tersebut. So, it wouldn’t be so hard, rite? ;D. Mading Natal tahun lalu cukup sangat mengesankan bagi kami, kru yang bertugas. Yang kami lakuin pas tahun lalu juga maksimal. Jadi, kami gak mau mading yang kami buat ini kalah bagusnya sama yang tahun lalu. Bagian yang paling aku suka di mading tahun ini adalah yakni antara lain pohon natal yang terbuat dari poto (kami, seluruh anak HOMPIMPA dan wali kelas) berukuran 2 x 3 cm di sisi kanan-kiri mading. Yap! Poto yang jumlahnya 42 itu dibagi jadi 21-21 buat masing-masing pohon natal dari karton yang terlapis origami hijau-merah-merah-hijau. Sama kayak pohon natal tahun lalu, bedanya, pohon natal tahun lalu dibuat sama Ayuk dari permen Alpenliebe-Relaxa-Kiss. Bagian lain dari mading tahun ini yang aku suka adlah bacaan Merry X-Mas and Happy New Year yang dibuat sama @ndahayoo. Meski simple, tapi keliatannya bagus banget! Naaah, kalo natal yang kemarin, aku suka kapas-kapas yang kayak salju ditaburin di mading dan teras-madingnya. Terus ada juga hiasan-hiasan dari kain planel yang dibuat sama @gitcaca @mutiarasndr. Bentuknya ada yang kaus kaki, tongkat permen sama ginger bread. Hiasan dari kain planel itu juga kami pake buat mading kali ini. Dan malah hampir 50% lebih bahannya kami ambil dari mading-mading kemarin (rumbai-rumbai hiasan natal), kan milik kita bersamaaaaa. Itung-itung dimanfaatin daripada ntar malah mubajir, lagian males kalo harus buat lagi, RIBET! Nyiahahahahahahahahahaha :D.
Yang jadi kenangan tersendiri dari natal kemarin yang kurang lebih-sedikit banyaknya juga terjadi pas ngerjain mading adalah eng ing eeeengggggg……we were be the last people at school (again)! Yap! Kami jadi PENGHUNI TERAKHIR lagi di sekolah! Serem, iya. Mencekam, banget. Alhamdulillah mencemen yang baik hati kayak @nike_taruna, Agustini, Bu Anita sama Pak Syahril masih setia nungguin kami sampe selesai. Ohiya, jujur nih, ku kira si @nike_taruna itu nungguin mau bantuin sekedar guntingin origami atau apaaaa gitu, ternyata nggak. Yaaahh, jangan salahin @nike_taruna juga deng. Lagian kan memang bukan tugas dia ngerjain mading bareng aku sama @ndahayoo hahaha. But thank you very smoooocccchhh guys ;D.
(kamsia buat @ndahayoo yang udah mempercayai dan ngajak aku nge-mading. Buat @gitcaca dan @mutiarasndr yang udah ngasih semangat tersendiri dan inovasi juga kreativitasnya. Buat @lulululuk Ayuk Trisna sama Maggie yang udah jadi partner mading juga. You’re the BEST gals :*)
Obstacles
Mungkin kalau ditanya, siapakah yang punya dendam teramat sangat paliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing menakjubkan dari para OB? Jawabannya adalah….US. Mungkin, kami, anak Mading. Mengapa? Well, memang gak bisa dipungkiri kalau Mading itu erat kali kaitannya sama yang namanya BERSERAK! Yap! Barang ini pernak-pernik itu berserak, bahan sama alat berantakan, dan yang paling bikin gondok memang guntingan kertas kecil yang bertebar di lantai. Kami gak sengaja bang, tapi itu tersengajakan.
*playlist: Desi Bell – Delima*
Bukan maksud diriiii ku
Trus nyerakin lantenya
Tapi kami lagi nge-mading
Tolong bang OB harap makluuuummmmm
Gak ada kendala yang sangat teramat sekali sih pas nge-mading. Tapi ada kali ya rasa nyesek yang kami rasain kemarin. Itu pas yang lain pada nanya,
‘Masing kelas berapa? Kelas kalian? Oooohh, pantas lah.’
‘Loh kok kelas kalian? Bukannya kelas XII udah gak bisa ngisi mading lagi ya?’
‘Liat lah, mading kelas marok tuh. Tengok nanti hasilnya yaaa,’ (okay, this one is joke from one of our teacher, and I never mind ‘bout this one)
Di situ, aku agak bingung mau jawab gimana. Antara bingung atau apa, gak tau deh. Sebenernya gak ada yang salah-menyalahkan-disalahkan-atau tersalahkan. Gini nih, emang bukan jatah kelas kami buat nge-mading. Lagian emang dari tahun-tahun sebelumnya kelas XII itu gak diijinin buat ngisi mading. Tapi, kami juga punya alasan loh buat ngelakuinnya. Bukan berarti seenak hati jantung ginjal dan organ dalam kami aja. Alasannya, satu…tahun ini, ada perubahan aturan, Kelas XII diijinin buat nge-mading, lagian karena dari awal semester ada 2 mading yang diisi masing-masing kelas (tahun lalu cuma 1 mading yang boleh diisi), jadi sangat memungkinkan anak kelas XII untuk ngisi mading lagi. Ke-2, memang ini bukan jatah kelas kami, tapi adik kelas sangat tidak mengindahkan tempo yang diharuskan untuk ganti mading kelas, jadinya….kami lah yang disuruh nge-mading itu. Clear enough? I think so, thanks for understanding.
Not me, but us.
Ku kira cuma aku yang yaaaaa bisa dibilang maruk akan kerinduan sama si mading ini. Bolak-balik nanya @ndahayoo dan sekedar ngetweet ‘kangen buat mading bareng @gitcaca sama @mutiarasndr’. Tapi ternyata aku gak sendiri. Mereka pun berperilaku demikian, rindu. Ternyata pekerjaan ini *ceilah bahasanya*bisa jadi sangat merindukan yaaa.
*playing list: MJ-You’re not alone*
You are not alone, I’m here with yoouuuu~
Meski tiap ngerjainnya berliter-liter peluh menetes dan kadang agak frustasi dan pesimis kalo konsep sama apa yang dibuat itu gak sama, tapi hasilnya selalu dapat memuaskan. Yaaah, our job has its own missed.
Thank you for reading. I’ll be glad if you wanna see and appreciate our creation too.
w/ ♥
-me,
Create Mading with others
After hiding our miss feeling for a loooooooong time-





0 komentar:
Posting Komentar