Begini, aku tak pandai berpuisi atau merangkai kata indah bak pujangga. Aku juga tak mampu berkata langsung padamu. Jadi, aku memilih menulis saja. Menulis sebuah surat, ya katakanlah demikian, kepadamu. Ntah nanti sempat kau baca atau tidak. Ntah nanti sampai padamu atau tidak. Tulisan ini akan tetap tertulis dariku untukmu.
Kau tahu? Aku saat ini bingung. Apakah aku harus marah, gelisah atau resah namun yang jelas aku sedang gundah. Kali ini, kau penyebabnya. Aku menyalahkanmu.
Love at the first sight, classic memang. Tapi aku sering kali terjebak ke sana dan yang menjeratku pun tetap sama. Pria berkacamata yang ntah kenapa selalu terlihat misterius dan menyebalkan tapi menggelitik rasa ingin tahuku. Kau adalah pria berkacamata yang kesekian kalinya menjeratku.
Pertemuan kita singkat saja. Biarlah aku bercerita versiku. Aku datang terlambat ke pesta pernikahan itu, pesta pernikahan kakak teman karibku. Para tamu undangan yang datang tumpah ruah meskipun malam telah menjelang. Aku dan teman-temanku memilih mengamankan diri di dalam rumah mempelai, mencari tempat aman untuk menyantap hidangan dan memanjakan perut yang meraung. Aku yang kelelahan sepulang dari kampus di akhir pekan mencoba untuk tak terlalu peduli dengan keadaan sekitar dan mengacuhkan semua. Yang aku pikirkan saat itu; aku telah berhasil datang dan akan segera pulang, berjumpa dengan teman-temanku sudah cukup untuk melepas rindu dan rasa bersalah karena tak bisa membantu mempelai jadi pagar ayu pagi itu, ehem. Dan tiba-tiba kau muncul. Sesekali kau lewat, membantu memegangi gaun mempelai wanita yang berjalan ke ruang ganti. Aku tak peduli. Biar saja, aku masih lapar, semangkuk baso di depanku lebih menggoda untuk disantap. Kau lewat lagi, aku menyadari kau karena kacamatamu. Jangan heran, aku memang punya ketertarikan aneh kepada manusia yang memakai kacamata di wajahnya. Aku sempat berfikir, “Kau.” Namun segera kuenyahkan. Aku berpikir ini bukan saat yang tepat. Hingga salah seorang temanku menyapamu, meminta untuk memotret kami sekali saja karena aku baru datang. Ya, kau sang ‘Tukang Poto’ di acara itu. Kau menolaknya. Aku menanggapi dengan candaan. Kau yang sudah siap bertugas malam itu, sambil bergegas menumpahkan segala kecakapan canda.
Kau tak sungkan berbagi cerita. Sayangnya saat itu aku terlalu cukup lelah sehingga tak terlalu mempedulikan hal yang sangat menarik untuk kau perbincangkan. Aku malah menghindari topik yang membuatmu bersemangat. Namun tenang saja, aku punya persepsi sendiri tentang kau, yang merujuk ke tentang kita. Kau dan aku sedikit banyaknya punya kesamaan. Kita punya mimpi yang cukup sama, prinsip dan komitmen yang sama, rencana kehidupan yang sama, selera humor (yang secara singkat aku tangkap) sama atau mungkin aku hanya menerapkan ilmu Cocoklogi di sini. Satu hal lain yang ingin ku katakan, kau berbeda, berbeda dari mereka kebanyakan yang selama ini mencuri perhatianku. I thought that you had my zing.
Singkatnya, candaan itu berubah menjadi hal yang aku pikirkan sampai saat ini. Kau bisa bilang aku yang terlalu membawa perasaan ini. Baiklah, terserahmu saja. Tapi perlu kau tahu, sesungguhnya aku berusaha keras untuk menolak ini semua. Namun semakin aku menolak semakin pula kupikirkan kenyamanan yang kau tawarkan. Ditambah lagi teman-temanku yang meyakinkan. Maaf, aku bukan seorang penguntit namun jika ada hal yang sangat ingin aku tahu, maka aku akan mencari tahu hingga tuntas rasa ingin tahu ini terpenuhi. Sedikit banyaknya aku tahu tentang dirimu. Aku hanya memuaskan diriku.
Sejak saat itu, kita memang tak pernah berkomunikasi lagi. Awalnya, aku memang tak berharap lebih. Kehidupanmu adalah punyamu dan kehidupanku adalah punyaku. Maaf jika aku sedikit membuatmu tak nyaman karena tindakanku. Jujur saja, hingga saat ini aku masih terus memikirkanmu. Tak tahu aku apakah kau juga begitu.
Klasik memang ketika aku mendengar orang bilang; kalau sudah nyaman, apapun tak dihiraukan. Awalnya aku rasa itu cuma omong kosong orang yang dimabuk cinta. Hah! Yang benar saja. Kau sedang berada di atas awan, kawan? Bermimpi kau,ya? Namun kali ini sepertinya aku yang sedang bermimpi di atas awan. Kalau sudah nyaman, mau buat apa? Ya, mau ku ungkapkan bagaimana lagi kenyamanan yang tak sampai enam puluh menit itu? Ha! Aku sudah gila sepertinya.
Sudah ya, sampai sini saja dulu. Percuma juga rasanya aku menulis panjang lebar tapi kau tak mungkin membacanya. Kau tau kan, aku sangat kesal padamu saat ini. Kenapa? Karena kau membuatku menggantung diriku sendiri di ambang angan. Kau membuatku goyah akan komitmenku. Kau membuat tembok tinggi itu hampir rela aku hancurkan untukmu. Kau tahu, susah payah aku membangunnya. Keras aku menyamankan diriku dalam kesendirian. Bah! Tiba-tiba kau seenaknya saja menghembuskan angin itu. Semilir yang menyisir dedaunan dan menghelai sela pondasi ini. Kau berhasil.
Maafkan aku yang mengganggu kehidupanmu sebentar. Teruskanlah mimpimu. Teguhlah pada komitmenmu. Aku berusaha menghargai. Karena kita sama. Aku pun begitu, ingin dihargai prinsip dan komitmennya serta didukung mimpinya. Mungkin kita akan bertemu lagi, entah kapan dan dengan cara yang bagaimana.
Terima kasih sudah hadir sedetik kemarin. Ntah kau memang hanya singgah atau akan kembali lagi dan menetap nanti. Ntah kau sebagai kesan atau pelajaran.
Sampai bertemu lagi.
Kau, berjuanglah.
Bila kau ingin aku menunggu, aku di sini.
Kalau kau ingin aku pergi, katakan saja.
Aku ingin tahu.
Sincerely,
ku tebak, kau belum tau namaku.





0 komentar:
Posting Komentar