Never
been ‘we were’ but always be ‘we are’
Belakangan emang
tulisan ku penuh sama
G-ness yang bahasa sakralnya kegalauan. Emang kalau ditelaah sama BMKG,
70%
dari blog ini tuh isinya galau semua. Dan kayaknya aku masih jadi
nominasi Duta
Galau barengan sama Pinak dan Sekar. Rasanya kalau satu postingan itu
gak
galau, aku berasa diarak keliling kota nyaksiin kericuhan demo diangkat
pake
sling trus diangkut pake balon udara bentuk 23! Sangat super. Jadi,
untuk
peringatan awal, jangan heran kalau postingan kali ini juga
merefleksikan aku
yang lagi galau.
Well,
beda dong. Hari ini aku galau
bukan karena dia, tapi mereka. Ngitung hari yang tersisa bareng mereka
itu
kayak ngitungin biji cabe yang ada di satu bungkus maicih ukuran 23
kilo.
Meskipun hari yang kami punya tinggal sikit lagi, tapi aku selalu kalap
ngitungnya, gak pernah berhasil. Aku gak pernah bisa sesukses Dora the
Explorer
yang selalu berhasil menuntaskan masalah hitung-hitungan papan jembatan
yang
hilang karena dihembus sama Swiper. Mungkin juga aku yang gak mau bisa
lulus
ngitung hari-hari sisa, takut makin galau kalau diperdalam lagi. Kalau
aku
sadar berapa sisa hari yang kami punya, rasanya itu kayak ketusuk bambu
runcing, dimaki sama Belanda, trus diselamatin sama si Pitung yang
akhirnya
buat aku sekarat juga gara-gara lalap mikir kalau si Pitung itu David
Archuleta. Ah. Awkward. Kadang aku ngerasa belum puas atau kadang
malah nyesel
karena gak bisa ngabisin waktu 3 tahun secara maksimal. Atau mungkin
juga aku
yang gak sadar udah ngelakuinnya dengan maksimal. Dan aku juga heran,
kapan aku
pernah sadar? Perasaan tiap kali nulis, aku selalu dibawah bimbingan
hal-hal
yang gak sadar.
We love us.
We
adore us.
We
apreciate us.
We
believe us.
We
know us.
We
understand us.
We
have fun together with us.
We
have been doing super extraordinary
things that made anyone who sees it is envy with us.
We
are friends.
We
are bestfriends.
We
are family.
We
are sisters another brothers and
brothers another sisters.
We
are unity.
Waktu 3 tahun bareng-bareng emang
terasa gak adil dibandingin sisa beberapa hari lagi. Kejadian-kejadian yang
cuma kami yang bisa ngelakuinnya itu……aaarrrggghhh!!!I don’t have any word to
descript it! Wordless. Un-imagine-able.
Aku ngerasa bahagia ada di antara
mereka. Bukan menjadi satu yang menonjol di antara semua, tapi satu yang sama
dengan mereka. Kami saling menerima satu sama lain. Dengan cara kami
masing-masing untuk menerima dan diterima masing-masing pula. Gak butuh satu
hal yang sangat sungguh berlebihan untuk mencari perhatian mereka, karena
mereka sudah memperhatikan dengan sejumput pengertian dan kemudian diaduk
hingga merata menjadi satu ketulusan dalam berteman, bersahabat, dan
berkeluarga.
Mungkin aku bakal ngerinduin gimana
cara mereka nerima suara yang melengking ini atau ke-addict-kan ku terhadap 23 yang menurut sebagian orang itu jauh di
atas orang normal yang lebay. Ya, mereka menerima kelebayanku…juga keimutan dan
kelucuan yang terpancar cerah dari ku juga pastinya *tusuk pake tusuk sate yang dirakit jadi samurai*. Gak perlu usaha
yang sangat keras dan lebay untuk diakui jadi bagian di antara mereka, bagian
di antara kami.
Yang cuma mandang dari luarnya aja,
apalagi sebelah mata ditutup pake kacamata kuda, pasti gak ngerti gimana kami
sebenernya. Mungkin ini juga bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan identitas kami yang sebenernya.
Juga bukan tempat yang bagus buat nge-teh sariwangi. Karena gak mungkin dalam
waktu dan di tempat ini juga aku bilang kalau kami semua adalah jelmaan Ultraman
yang bakal ngebasmi monster laba-laba. Kami gak mau kalau identitas kami itu
ketauan. Jadi, jangan bilang siapa-siapa ya. Ini rahasia. ;)
Well, bagi yang menilai kami itu
kompak luar biasa dan tanpa ada perdebatan, kalian salah. Mohon maaf, nilai
dikurangi satu. Bagi kalian yang menilai kami selalu berdebat dalam hal kecil
sekalipun, kalian juga gak bener. Aku heran, kok kalian bisa kompakan gitu sih
mikirnya? Sama-sama salah, sama-sama gak bener, sama-sama minus satu. Ada apa
dengan kalian? Sesuatu? Jadiiii, gak ada yang sempurna kan?! Walaupun kekaguman
membuat satu hal menjadi sempurna. Gitu juga kekompakan kami pas nampilin
yel-yel 17an atau ngedukung tim futsal kapanpun berjuang di medan pertempuran.
Baik dengan cara dateng langsung ke TKP atau nyumbang seikhlas hati-500 perak-
demi menutupi bayaran sewa lapangan futsal. Sesungguhnya selalu ada
ketidaksepahaman di dalamnya.
Gitu pula pas kami berdebat nentuin
isomer senyawa kimia atau persamaan reaksi redoks yang bisa-bisa ngebuat aku
minum larutan fenol gara-gara debatnya gak siap-siap. Ketahuilah bahwa ada satu
nilai kebersamaan di sana. Kebersamaan dalam musyawarah demi hasil yang terbaik
dan zat kimia yang aman bagi kulit.
Sebanyak-banyaknya tugas yang dikasih
guru-guru buat nuntasin nilai UAS, itu semua dikalahin sama banyaknya masalah
yang kami terima lewat kotak pos kecil di hati. Masalah apapun. Cibiran,
sinisan, cemberutan bahkan ngambeknya seseorang.
Siapa sih yang suka
dibanding-bandingin sama orang lain? Coba deh, kamu yang lagi baca ini
postingan, yang punya pacar pastinya…gimana sih perasaan kamu kalau kamu
dibandingin sama mantannya pacar kamu? Atau sama orang lain? Pasti nyesek kan?
Pasti ngedumel kan? Pasti pengen nabrak pacar kamu pake truk holcim saat itu
juga kan?! Tapi sayang saat itu gak ada truk holcim, jadi pacar kamu selamat.
Begitu juga kami yang cuma manusia biasa dengan keimutan luar biasa. Walaupun
ada maksud tersirat saat orang-orang yang berada di kasta di atas kami (kami
pelajar diatasnya adalah…) ngebandingin kami sama orang lain yang kastanya
sejajar sama kami. Maksud tersirat yang berguna bagi kehidupan di masa yang
akan datang.
Terlepas dari orang yang kastanya
lebih tinggi yang memang harus dihormati, kami juga punya sesuatu dengan
orang-orang yang kastanya sederajat. Sinisan kek, cibiran kek, atau hal-hal
yang ngejatuhin kami yang secara gak sadar mereka malah ngejatuhin diri mereka
sendiri! Ckckck, yang sabar yaaaaaaaaahhh. Ultraman pasti membela yang benar
kok hahah :p. oke, gak ada maksud apa-apa di sini. Biarin deh ada yang sinis,
nyibir atau apalah tapi kami tetep pengen berteman kok. Bukan maksud sok mulia. Tapi
kami apa adanya.
Masalah bahkan ada yang datang dari
orang sederajat kastanya yang satu pohon sama kami! Yap. Sebut saja teman sekelas.
Di rumah pun, kita sering gak sepaham sama keluarga, gini juga kami, aku dan
mereka yang udah jadi keluarga kedua. Pernah suatu sore, aku sama beberapa
teman yang satu pohon lagi menyantap bebek goreng. Si kawan satu lagi makan
gado-gado. Jadi yang paling enak dimintain itu yang makan gado-gado, karena gak
ribet motong-motongnya lagi kayak bebek goreng. Oke, sebenernya gak ada
urusannya sama bebek goreng yang lagi malam mingguan sama gado-gado.
Jadi, setelah bebek goreng sama
gado-gadonya habis, kami mulai kekenyangan. Ditengah kekenyangan yang melanda,
kami pun akhirnya flashback ke
kejadian-kejadian yang pernah kami alami bersama. Yang anehnya, pas kami
menerawang tentang masalah itu, kami malah ketawa. Kayak ada Sule sama Andre
yang lagi joget iwak peyek di dalam kejadian itu. Padahal, pas kejadian yang
sebenernya waktu itu, suasananya sangat mencekam dan sekarang malah jadi
lelucon saat kami menceritakannya ulang. Aku mikir, tumben sih aku mikir
biasanya juga enggak -____-. Aku mikir gini, bisa gak sih kita tetep
ketawa-ketawa kayak gini lagi 10 tahun mendatang, saat reuni dan nyeritain hal
yang sama kayak gini lagi?!
Aku terhenyuk. Diam menatapi jalan
yang sudah mulai ramai dan langit yang mulai keunguan menandakan adzan
dikumandangkan. Aku kembali terhenyuk lagi, melihat bill bebek goreng yang harus dibayar saat itu. Aku kembali ke dalam
lantunan Graduation-nya VitaminC yang buat aku
bener-bener……terhenyuk.
w/ ♥
-me,
…………-









0 komentar:
Posting Komentar