Kamis, 01 Desember 2011

Di Ujung Jalan Itu (Second Written)

Di Ujung Jalan Itu


***
Taman punya kita berdua
Tak lebar luas, kecil saja
Satu tak kehilangan lain dalamnya
Bagi kau dan aku cukuplah
                        Taman kembangnya tak berpuluh warna
                        Padang rumputnya tak berbanding
                        Permadani halus lembut dipijak kaki
                        Bagi kita itu bukan halangan
Karena
Dalam taman punya kita berdua
Kau kembang, aku kumbang
Aku kumbang, kau kembang
Kecil, penuh surya taman kita
Tempat merenggut dari dunia dan manusia

Puisi berjudul Taman karangan Chairil Anwar itu cukup membuatku tersenyum. Awal yang baik untuk hari ini. Lama juga ku pandangi kertas berwarna merah muda dengan goresan tinta cair itu. Setiap kali aku membaca kertas itu ataupun kertas lain pemberian orang yang sama, aku seperti tak pernah mau membuang pandanganku darinya. Lembaran-lembaran kertas itu selalu memhadirkan bayangan si pemberi kertas saat aku membacanya. Haris. Nama itu juga selalu terngiang dan menggema di pikiranku. Tak tahu entah suara dari mana yang selalu membisikkan nama itu dengan halusnya setiap kali aku membaca lembaran kertas berisi sajak atau puisi dan kata-kata romantis darinya.

***
            Langkah kakiku kembali menyusuri setiap sudut kamarku. Aku mondar-mandir. Tak seperti biasanya. Hari ini Haris mengajakku bertemu di taman di ujung jalan rumah ku. Aku bingung sendiri, gelisah dan pastinya juga senang. Seperti tak biasa menghadapi kejadian seperti ini. Padahal Haris hanya mengajakku bertemu. Oke, mungkin aku memang sedikit atau lebih tepatnya akan sangat nervous. Kami sudah jarang bertemu. Terakhir kali kami bertatap muka sekitar 6 bulan yang lalu. Itu karena Haris yang meninggalkanku di sini demi studinya di sebuah Universitas Negeri favorit di luar kota kecil kami. Dan hari ini adalah hari di mana kami akan bertemu kembali. Apakah dia masih mengenaliku? Apakah dia masih seperti yang dulu? Ataukah dia sudah berubah? Apakah aku siap menemuinya? Apakah…….?

***
            Aku menunggu di ujung jalan ini, di ujung jalan rumahku yang juga ujung jalan taman ini. Inilah tempat yang dijanjikan Haris untuk bertemu. Aku bolak-balik merapikan rambut dan bajuku. Jujur saja, aku tak mau terlihat buruk dimatanya setelah setengah tahun kami tak bertemu. Aku ingin memberikan kesan yang baik padanya.
            Seorang lelaki bertubuh tinggi yang tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus menghampiriku. Ia memakai jaket yang oversize, tapi masih bisa terlihat kaus polo bermotif hitam-abu-abu itu melekat di tubuhnya. Jeans hitam dan sepatu keds coklat gadel ikut menyertai kakinya. Aku mengenali lelaki itu. Ia berhenti tepat di hadapanku. Senyuman simpul terlempar dari bibir manisnya kepadaku. Aku hafal betul senyuman itu. Dia tidak berubah dari yang aku kenal sebelumnya. Spontan aku membalas senyumannya dengan senyum terbaikku.
            “Kamu datang juga, tepat waktu,” ujarnya.
            “Iya,” kataku yang mulai salah tingkah. Haris memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku menatapnya, mencoba mencari jawaban.
            “Cantik,” puji Haris. “Aku gak nyangka kamu bisa jadi se-perempuan ini. Pake dress, flat shoes. Dan hari ini kamu membiarkan rambut ikal panjang itu dihembus angin,” jelasnya.
            “Demi kamu,” jawabku manja. “Tapi jangan harap kamu bisa buat pipi ku jadi merah karna pujian tadi,” ucapku seakan menantangnya.
            “Gak akan. Karna pipi kamu udah merah duluan sejak aku datang tadi,” kini jari tangan Haris mencubit pipiku. Aku tertawa kecil, tertunduk malu.
            Kami berjalan menyusuri sekeliling taman sambil berbincang dan berbagi banyak cerita. Aku puas melepas rindu padanya.
            “Canggung ya?” tanyanya.
            “Yaaa, kamu tau sendiri aja lah,” kataku sambil tersenyum. Rasanya setiap perkataan dengannya selalu ku barengi dengan senyumanku. Aku tau dia suka hal itu.
            “Kita memang belum terlalu mengenal satu sama lain dengan baik. Dan aku membuat kita tak punya banyak waktu untuk itu. Tapi aku percaya kamu adalah orang yang baik bagiku. Makasih ya,” Haris melingkarkan tangannya di bahuku. Jujur, seketika aku langsung salah tingkah. Ia berusaha memecahkan kekakuan di antara kami. Masa perkenalan selama 3 bulan sebelum ia pergi memang tak cukup. Ditambah lagi selama 3 bulan itu, waktu kami untuk sekedar bertemu sangat sedikit, selain karena kami sibuk dengan urusan menjadi siswa kelas 12, orang tua kami pun tidak memberi kebebasan kami untuk menjalin hubungan.
            “Kamu sudah terima suratnya?” suara lembut Haris terdengar di telinga ku.
            “Udah,” aku mengangguk. “Terima kasih,” lanjut ku.
            “Untuk?” tannyanya singkat.
            “Makasih udah mau ngirimin surat-surat yang isinya puisi itu…”
            “Hahaha…” Haris malah tertawa, aku bingung. “Semua puisi itu bukan karanganku. Tak ada artinya. Tak akan berkesan untukmu,” lanjutnya
            “Aku tau. Tapi karena puisi itu kamu yang memberikannya, jadi sangat berkesan,” jelasku sambil tersenyum. Haris mengerutkan keningnya tanda saat ini ia sedang bingung dan mencari tahu maksudku.
            “Kamu tahu, aku gak pernah suka sama sastra. Apalagi untuk puisi. Membosankan,”
            “Trus kenapa kamu bilang makasih untuk puisi-puisi itu?”
            “Aku gak pernah suka sama sastra, apalagi puisi,” ku ulangi lagi kata-kataku tadi. “Meskipun itu karangan penyair terkenal, aku akan sangat mengantuk kalau membacanya dibandingkan kalau aku harus mengerjakan ratusan soal eksakta seharian,” kataku polos. Haris tertawa terbahak mendengar ucapanku barusan.
            “Apa yang salah? Setidaknya mencari hasil dengan rumus itu lebih menantang daripada menghayutkan perasaan dalam sajak-sajak,”
            “Gak ada yang salah. Tapi bicaramu sekarang sudah berbeda. Lebih puitis dibandingkan kamu 6 bulan yang lalu, urakan. Puisi-puisi itu mempengaruhimu?” tanyanya iseng sekaligus memastikan.
            “Mungkin,” jawabku seraya mengangkat bahu.

***
            Aku memperlambat langkah kakiku. Kepala ku pun kini ikut tertunduk. Pintu rumah yang tak kurang dari 2 meter itu serasa berjarak 2 km bagiku saat ini. Ku lihat Ibu yang sepertinya sudah sedari tadi menungguku di pintu bak malaikat penjaga pintu neraka kali ini, biasanya ku ibaratkan ia seperti malaikat penjaga pintu surga. Aku tau pasti ia sudah menyimpan seribu pertanyaan dan aku akan siap menjawab beribu peertanyaan yang akan menerjangku.
            Pintu kamar itu nyaris saja tertutup rapat kalau saja Ibu tak menahannya. Aku menghela nafas. ‘Aku siap diintrogasi,’ batinku.
            “Kamu darimana?” tanya Ibu.
            Aku diam sejenak. Memutar otak memikirkan beribu alasan untuk dijawab. Haruskah aku berbohong?
            “Ibu pasti tau,” jawabku sambil tersenyum. Aku harap dia mengerti.
            “Oh, yasudah,” katanya datar. Lalu ia pergi dari sisi pintu kamar berwarna merah marun itu.
            Aku menghela nafas lagi. Lega karna Ibu tak bertanya yang macam-macam. Ia sudah mulai mengerti dengan putrinya yang satu ini. Dulu saat pertama kali Ibu tau bahwa aku dekat dengan Haris, ia sangat tidak setuju dan marah. Bahkan ia bersikeras menentangku dan mengharuskan hubungan aku dan Haris berakhir. Tapi sekarang beda. Entah karna ia sudah mengerti atau karna ia sudah bosan memarahi anaknya yang keras kepala ini.
            Aku terperanjat kaget saat tau Ibu kembali berada di pintu kamarku.
            “Jangan sampai Ayah tau,” katanya. Kini sebuah senyuman ikut menyertai perkataannya.
            “Iya, pasti,” aku membalas senyuman Ibu. Sadar atau tidak, Ibu sepertinya sudah menyetujui hubungan kami walaupun secara tak langsung. Ia pun memberi kepercayaan lebih padaku untuk hal ini. Kepercayaan agar tidak membuatnya kecewa di lain hari karna keputusan ku sendiri. Kalau begini, tinggal menunggu reaksi Ayah
saja.

***
            Taman ini sepi, yang ku lihat hanya seorang perempuan sedang menemani seorang anak kecil yang masih imut-imut. Tampak bahwa perempuan itu sangat menikmati harinya menjadi seorang Ibu. Di sisi lain taman ada beberapa anak bermain.
            Aku menunggu, duduk di bangku taman yang sudah usang. Bolak-balik ku lirik jam di tangan kiri ku. Setiap 5 menit berlalu rasanya seperti 50 menit, lama. Yang ku tunggu tak kunjung datang. Dimana Haris? Tak biasanya ia tak tepat waktu.
            Aku bosan menunggu sendiri di taman ini. Ku putuskan untuk pergi ke ujung jalan. Sekedar untuk menanti Haris yang akan tiba daripada seperti orang bodoh yang duduk sendiri di taman yang bersuasana seperti makam ini.
            Di ujung jalan itu aku melihat Haris yang datang menghampiri ku. Dia kelihatan sedang terburu-buru, langkahnya tergesa-gesa. Ku lemparkan senyum padanya, aku harap itu sedikit menenangkannya yang tampak tak tenang. Haris tak membalas senyumku. Ia hanya menyodorkan sebuah amplop berisi surat. Isi surat itu sudah ku tebak. Puisi. Haris tak berkata apa-apa. Ia hanya diam. Ku rasakan tangannya mengelus rambutku, bibirnya mengecup keningku. Ia tersenyum, lalu segera pergi dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Aku terpelongo melihat tingkahnya. Kenapa Haris? Aku menghela nafas dan ku sadari Haris kini sudah ada kembali di depanku. Ia tampak bingung.
            “Maaf, aku......eeeng...aku....” bicaranya gagap.
            “Kenapa? Ada masalah?”
            “Bukan...bukan apa-apa,”
            “Jadi?”
            “Jadi? Jadi apa?”
            “Iya, jadi? Kamu kenapa?”
            “Aku gak kenapa-kenapa. Aku cuma mau bilang...kalo kita....eeng...” ia kembali gagap. Aku menatapnya. Mencoba mencari jawaban yang tertunda itu.
            “Besok tunggu aku di sini. Di ujung jalan ini. Aku gak bisa jelasin sekarang. Maaf ya,” jelasnya. Aku hanya mengangguk. Aku mencoba mengerti keadaannya. Jujur aku ingin tahu apa yang salah dengan Haris hari ini. Bisakah aku membantunya?

***
            Amplop berwarna merah muda itu hampir sobek di tanganku. Tak berbentuk lagi karna genggamanku sangat keras meremasnya sejak Haris memberikan amplop itu tadi siang. Aku tak sanggup membacanya. Entah kenapa. Ada firasat tak enak meskipun aku tahu isi amplop itu hanya puisi. Puisi yang akan sama seperti puisi-puisi lainnya yang pernah Haris berikan padaku.
            Aku menarik nafas dalam, ku hembuskan nafas itu perlahan dari mulutku. Aku memberanikan diri membuka amplop yang sudah remuk itu. Ku keluarkan kertas berwarna merah muda dengan perlahan dari dalamnya. Aku menghela nafas lagi. Entah kenapa aku seperti tak kuat melihat bahkan membacanya.
            Kertas itu kini sudah terbentang di hadapanku.
Kumbang tak pernah tinggal pada kuncup kembang
Ia hanya hinggap di sana
Dan
Perahu pun tak pernah mau lenyap di samudra
Tapi ia akan terdampar ke pulau lainnya
-H.S-
Aku terpaku melihat kertas kusut itu. Ini bukanlah puisi karangan Chairil Anwar atau penyair manapun yang pernah Haris berikan padaku. Ini puisi karangannya sendiri. Puisi karangannya yang pertama kali ku dapat. Aku pernah memintanya membuatkan puisi untukku. Tapi ia hanya tertawa mendengar ucapanku saat itu. Dan kini ia benar-benar melakukannya. Membuat dan memberikan puisi karangannya untukku. Aku tersenyum mengingat wajah sang pemberi puisi.
            Tapi hati dan pikiranku seakan memberontak melihat 5 baris sajak penuh arti itu. Aku tahu maksud kata-katanya, tapi aku seperti tak mau tau juga. Apa maksud Haris memberikan puisi ini?

***
            Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menundukkan kepalaku. Jari-jariku kini bergerak tak tentu menemani kegundahanku. Aku disidang. Siang ini. Di rumah dimana aku dibesarkan. Oleh orang yang mebesarkanku. Ayah.
            “Kamu tahu kan apa yang akan Ayah bicarakan?” suara tegas itu menggelegar ke seluruh sudut rumah sederhana ini. Si empunya suara pun duduk di hadapanku. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya.
            “Baguslah kalau kamu tahu. Tapi Ayah tak habis pikir,” ia menghentikan ucapannya cukup lama. Ayah kini menatapku tajam. Aku sebenarnya tak berani menatap mata coklat itu, tapi akhirnya ku beranikan diri juga. Aku menatap Ayah seperti seorang bayi yang tak berdosa. Ku lihat Ibu yang juga tak bisa membelaku saat ini. Aku menghela nafas.
            “Apanya, Yah?” ku beranikan juga untuk membuka mulut yang sedari tadi terkunci.
            “Kamu bertanya apa yang tak habis Ayah pikirkan?”
            “Iya,”
            “Hah, kamu ini pura-pura tidak tahu atau memang kamu tidak mau tahu?” kalimat itu cukup menghentakku. Aku menelan ludah.
            “Kamu tahu sendiri kan,” Ayah melanjutkan perkataannya. “Dulu Ayah tidak pernah setuju kalau kamu berhubungan serius dengan seorang lelaki. Dan kamu tau apa alasannya,”
            “Karna aku belum cukup umur...”sahutku.
            “Naaah, itu dia,”
            “Tapi sekarang keadaannya beda kan, Yah? Aku udah bisa jaga diri aku sendiri. Aku bisa jaga kepercayaan Ayah sama Ibu,” bela ku.
            Ayah hanya tersenyum. “Iyaaa, tapi kamu juga tau kalau Ayah sangat tidak setuju jika kamu berhubungan dengan Haris,”
            “Kenapa? Karna Ayah dan Ayahnya Haris punya masa lalu yang kelam itu? Aku bisa membantu Ayah membuat keadaan lebih baik. Ini kesempatan, Yah,”
            Ayah beranjak dari kursi yang ia duduki. “Masalah itu, kamu gak usah ikut campur. Kamu gak ngerti apa-apa,”
            “Jadi karna apa Ayah tidak menyetujui hubungan kami? Karna kami masih terlalu dini untuk memulai?”
            “Ayah beritahu kamu, Haris bukanlah orang yang pantas untukmu,”
            “Dari mana Ayah tahu? Bicara sama Haris saja Ayah tak pernah,” kini mukaku mulai merah, aku menahan emosi.
            “Ayah sudah mengenal Ayahnya Haris cukup lama. Ayah mengenal keluarga mereka. Ayah tahu bagaimana Haris. Ia memang orang baik, Ayah akui itu...”
            “Lalu kenapa Ayah menentang hubungan kami ini? Padahal Ayah sudah tahu sifat Haris dan bisa dibilang, Ayah suka dengan dia. Iya kan? Sangat tidak masuk akal kalau Ayah meminta kami berpisah tanpa alasan yang jelas,” mata ku berkaca-kaca.
“Ada hal yang tidak kamu ketahui,” Ayah berhenti bicara. Sepertinya ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Aku tak tahu apa yang tertahan dibibirnya hingga mengatakan hal itu saja ia tak mampu.
“Apa hal yang tidak aku tahu? Haruskah aku tahu? Kalau bgeitu, beritahu saja sekarang sebelum semuanya terlambat. Sebelum aku menyesal. Ayah akan berikan yang terbaik untuk Ine kan?” aku merasakan mataku kini hangat.
Ayah hanya diam, tak menjawab pertanyaanku. Aku menunggu cukup lama hingga aku tak sabar untuk beranjak dari ruangan itu. Aku berlari keluar tanpa menghiraukan Ayah yang berteriak memanggilku berusaha memberi penjelasan. Aku tak bisa mendengar ucapannya dari jauh, atau lebih tepatnya aku tidak mau mendengarnya lagi.

***
Ku usap mata ku dengan saputangan. Air mata ku masih terus mengalir. Aku tak habis pikir, kenapa aku bisa memberontak dan membantah perkataan Ayah. Aku juga tak habis pikir kenapa Ayah melarangku berhubungan dengan Haris kalau ia tahu Haris adalah orang baik.
Aku menunggu Haris di ujung jalan, sambil tetap mengeluarkan air mata yang sebenarnya tak mau aku keluarkan. Disinilah kami berjanji untuk bertemu lagi. Aku akan mendengarkan penjelasannya tentang sesuatu yang tak sempat dijelaskannya kemarin. Aku berharap banyak pada Haris. Berharap agar ia memberikan penjelasan yang cukup masuk akal untuk tidak membuat tangisku semakin deras atau meredakan tangis ini sekedar dengan membelai kepalaku.
Aku melihat Haris di sebrang jalan. Tapi ia tak mau menghampiriku. Ia hanya berdiri di sana. Menatapku tepat di sebrang pandanganku. Aku heran. Aku mencoba memanggil namanya. Tapi mulutku tak sanggup terbuka. Aku berusaha sekuat tenaga menyebut namanya, “HARIS!” Ia melihatku dan tersenyum. Aku mebalas senyuman itu sekenanya dengan mata bengkak dan berair.
Kini ia ada di hadapanku. Aku memeluknya. Tangisku makin deras.
“Aku tahu kamu orang yang terbaik, Ris. Aku tau kalau apa yang dibilang Ayah tentang kamu itu salah. Buktiin kalau kamu memang pantas buat aku, Ris. Buktiin kalau kita bisa seperti yang lain. Yang tidak harus bertemu di ujung jalan untuk melepas rindu...” aku menghentikan ucapanku saat ku lihat Haris ingin mengucapkan sesuatu.
Haris hanya tersenyum. Makna senyumannya saat itu, aku tidak tahu.
“Aku percaya apa yang kamu bilang, Ne. Tapi maaf...”
“Maaf?” aku heran melihat Haris.
“Iya, maaf. Oh iya, kamu sudah baca puisi dariku?”
Aku mengangguk pelan.
“Jadi kamu sudah mengerti maksud dari puisi itu dan juga apa yang akan aku jelasin kan?”
“Apa? Itulah yang justru ingin aku tanyakan pada mu, Ris”
“Baiklah. Aku tak punya banyak waktu untuk ini. Maaf. Aku cuma mau bilang, kalau kita gak bisa sama-sama lagi. Aku sudah ditunangkan dengan gadis lain oleh Orangtua ku. Aku gak bisa mengelak dari apa yang mereka minta. Maaf, Ne. Aku tetap sayang kamu,”
Kata-kata yang keluar dari mulut Haris seperti angin yang berhembus di telingaku. Aku terdiam. Seakan tak percaya dengan apa yang terjadi padaku hari ini. Aku menatap Haris nanar. Kurasakan mataku kini kembali hangat. Air mata itu kembali jatuh. Tak kurasakan lagi hangatnya Haris saat ia mencium keningku.
“Kamu serius?”
Haris meghela nafas, lalu ia mengangguk. “Iya,” jawabnya.
“Kaaa...muu.. taaa..uu?” kataku terbata-bata. “Kamu bilang kamu sayang aku?” Haris mengangguk lagi. “Tapi kenapa seperti ini, Ris? Jadi apalah artinya puisi-puisi kamu itu? Kamu hanya menerbangkanku ke awan lalu mencampakkanku ke bawah lagi, begitu?” nada suaraku meninggi.
“Bukan seperti itu, Ne. Aku juga tidak tahu tentang perjodohan ini. Kalau aku tahu, aku juga tidak akan memberikan harapan lebih pada mu,” kalimat Haris barusan seakan menyayat bagian terdalam hati ku.
“Lalu kenapa kamu tidak bisa menolaknya? Kamu sadar ini bukan jaman Siti Nurbaya lagi kan, Ris?”
“Aku tau, Ne. Maaf. Cuma ini yang bisa aku jelasin sama kamu...”
Kata-kata terakhir Hartis tidak ku hiraukan lagi. Aku langsung berlari pergi. Haris mencoba mengejarku, tapi aku tak mau menoleh ke arahnya lagi.

***
Ku pandangi saja pintu depan rumah ku. Aku tak berani masuk ke rumah setelah apa yang ku lakukan pada Ayah dan Ibu. Aku anak durhaka. Aku selalu memikirkan egoku saja. Seharusnya aku mendengarkan apa kata Ayah dan Ibu.
Pintu sederhana itu terbuka lebar. Dari sana muncul sosok Ibu yang tersenyum padaku. Aku berlari ke arahnya, memeluknya dan meminta maaf. “Maafin Ine, Bu. Seharusnya aku dengerin apa yang Ayah dan Ibu bilang dari dulu,”
“Semuanya sudah terjadi. Mungkin ini yang terbaik. Kami sudah memaafkanmu. Justru Ayah yang seharusnya meminta maaf padamu,” ujar Ayah yang sudah ada di samping aku dan Ibu.
“Maaf? Untuk apa, Yah?”
“Sebenarnya Ayah sudah tahu tentang perjodohan Haris dari dulu. Itulah mengapa kami melarangmu berhubungan dengannya. Tapi Ayah belum sanggup untuk bilang hal ini ke kamu. Karna Ayah lihat kalian saling menyayangi satu sama lain,”
Aku tersenyum pada Ayah dan Ibu. Aku memeluk mereka erat. Aku mencoba mengikhlaskan semuanya. Mengikhlaskan Haris bersama yang lain. Inilah yang terbaik bagi kami.

***
Tumpukan surat dan puisi yang dulunya menghuni kamarku kini sudah berada di ujung jalan ini. Tinggal menunggu seseorang mengangkutnya. Aku tak sanggup membuangnya. Membuang kenanganku bersama Haris.
Aku mengikhlaskannya. Kertas itu. Haris.
***
Unsur Instrinsik
Tema                           :           Kisah percintaan dua insan yang terhalang karena perjodohan
Judul                           :           Di Ujung Jalan Itu
Alur                             :           Alur maju
Latar                            :           1. Kamar                     3. Rumah
                                                2. Taman                     4. Di Ujung Jalan
Sudut Pandang           :           Sudut pandang orang pertama (akuan)
Tokoh / Penokohan     :           1. Ine               :           Baik, keras kepala
                                                2. Haris            :           Puitis, tidak setia
                                                3. Ibu               :           Tenang, baik, pemaaf
                                                4. Ayah           :           Tidak tegaan, baik, tegas, pemaaf
Konflik                       :            Konflik dalam cerpen ini mulai terjadi saat Haris bertingkah aneh kepada Ine. Lalu Ine memberontak kepada orangtuanya yang seperti menyembunyikan sesuatu darinya dan tidak menyetujui hubungan Ine dan Haris sejak awal. Ia bersikeras membuktikan bahwa apa yang dibilang orangtuanya tentang Haris adalah salah. Ine menjumpai Haris dan meyakinkan bahwa Haris adalah jodoh yang pantas untuknya. Tapi ternyata keadaan berkata lain. Haris telah dijodohkan dengan perempuan lain. Hidup Ine seperti tinggal seperempat saja. Ia sudah durhaka kepada orangtuanya karena tidak mendengarkan dan kini Haris mengkhianatinya karena masalah perjodohan.
Amanat                       :            1. Kita harus mendengarkan nasihat orangtua kita karena mereka pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita.
                                                2.  Kita harus bisa mengkhilaskan seseoarang yang bukan menjadi milik kita karena itu mungkin adalah jalan yang terbaik bagi hidup kita di kemudian hari.


XII IPA 1

0 komentar:

Posting Komentar

Pages

Credits

Diberdayakan oleh Blogger.